| Red-Joss.com | Orang yang disiplin itu mereka tidak mau menunda atau kompromi dengan waktu. Karena apa pun yang hendak dikerjakan itu harus diselesaikannya secara tuntas.
Alasannya, karena mereka sadar dan telah membiasakan diri untuk disiplin. Bahwa sukses dan bahagia itu ditentukan oleh diri sendiri, dan Allah yang memberkati.
Sesungguhnya, menunda itu ibarat menimbun butir-butir penyesalan. Makin lama kian menumpuk, dan membuat dada ini jadi menyesak. Penyesalan yang menumpuk itu kian memberat, bahkan mampu gelapkan jiwa kita ke dalam keputus-asaan, dan itu suloyo.
Sesungguhnya saya tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi sesaat setelahnya. Sehingga saya belajar dan terus berjuang untuk tidak membuang-buang waktu dan menunda-nunda pekerjaan.
Saya tidak hebat, kaya, atau perpendidikan tinggi. Tapi saya memanfaatkan waktu itu dengan baik. Alasan saya sederhana, “Kematian itu bisa datang sewaktu-waktu, dan tidak ada seorang pun yang tahu.”
Intinya adalah, saya akan mengisi hidup ini dengan hal-hal baik dan bermakna. Karena saya mencintai diri saya, keluarga, pekerjaan, dan hidup saya. Anugerah Allah itu yang saya kelola sebaik-baiknya agar hidup ini bermakna bagi sesama dan berkenan bagi Allah.
Jadi, ketika ada teman bertanya, kenapa keadaan keluarga saya tampak sejahtera dan bahagia, dibandingkan dengan mereka yang hebat, beken, dan berprestasi?
Jawaban saya sederhana, karena Allah mencintai dan memanjakan keluarga saya.
Sederhana, dan itu tidak rahasia, karena semua terlihat dengan jelas dan gamblang.
Sesungguhnya, jika ekonomi saya dianggap lebih mapan dibandingkan dengan mereka yang beken, sukses, berkedudukan, dan seterusnya itu adalah salah besar. Semua itu ‘sawang sinawang’. Tapi yang jelas saya selalu bersyukur untuk mencukupkan diri, apa pun yang diberikan Allah.
Saya tidak pernah memilih-milih pekerjaan dan rezeki yang diberikan Allah. Saya pernah jualan sayuran, pakaian, calo tanah, wartawan, dan banyak lagi.
Saya ingat nasihat Ayah teman, ketika saya bermain di Pecinan, Ambarawa.
“Kita harus membiasakan diri ‘pendam duwit’. Hidup prihatin dan hemat. Tidak selamanya kita jadi pekerja, tapi harus berwirausaha, dan mandiri.”
Nasihat itu terpatri kuat di hati ini agar saya tidak memburu gengsi, tapi hidup secara sederhana dan rendah hati. Hidup untuk jadi pejuang yang gigih, tekun, dan hemat demi masa depan yang sejahtera dan bahagia.
Hasilnya adalah, saya merasakan dan mensyukuri anugerah Allah itu melebihi batas yang saya impikan dalam hidup ini.
Jadilah orang baik dan teruslah berbuat baik, karena Allah murah hati.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

