“Apa pun peristiwa dalam hidup ini, jika dianggap sebagai beban itu jadi berat. Jika disyukuri sebagai anugerah Tuhan, jadilah berkat.” -Mas Redjo
Keharuan itu merebak menyesaki dada, dan air mata yang menetes itu jadi butiran permata.
Jujur, sepak terjang anak muda itu di luar perkiraan, bahkan tidak terlintas dalam pikiran saya. Karena baru kali ini saya melihat perhatian kasih yang besar itu terhadap warga lansia dan sepuh.
Pengurus Lingkungan yang datang mengunjungi warga lansia itu mengingatkan masa kecil saya di kampung. Romo mengunjungi umat dari rumah ke rumah menggunakan sepeda ontel.
Faktanya, kini peristiwa itu terjadi di pinggiran Jakarta, di mana orang sibuk, individualis, dan egoistis. Banyak orangtua yang kesepian dan terlantar, karena anak mereka bekerja jauh di kota-kota besar, dan jarang pulang menengok orangtua.
Tidak hanya itu. Jiwa ini tersentuh, terharu, bahkan menurut saya jadi histeris dengan ketelatenan dan kesabaran pengurus Lingkungan yang rela menyediakan tenaga dan waktu mengurus warga sepuh itu, serta memanusiawikannya.
Bagaimana tidak. Pengurus dibantu beberapa orang muda Katolik (OMK) Lingkungan itu menjemput mengantar warga sepuh dengan kendaraan untuk sembayangan di rumah umat Lingkungan.
Bagi saya pribadi, perhatian kasih mereka pada warga lansia, sepuh itu bagai oase di musim kemarau. Sejuk dan menyegarkan jiwa!
Mereka tidak banyak bicara, tapi memberi bukti keteladanan dari hati, sekaligus hal itu menampar wajah saya sendiri.
Mereka melayani warga sepuh itu dengan hati dan menginspirasi.
Apa jawaban dari seorang pengurus Lingkungan itu, ketika saya bertanya tentang perhatian kasih mereka terhadap warga lansia dan sepuh?
“Karena kami nantinya menua, Pakdhe. Mereka adalah orangtua kita juga.”
Jleb! Saya terdiam. Hati saya menjerit, terharu dan sekaligus bahagia.
Tuhan memberkatimu, Nak.
Mas Redjo

