“Jangan ragu atau tidak percaya. Bersama Tuhan, kita melangkah pasti. Hidup ikhlas itu berkualitas, dan tuntas.” – Mas Redjo
…
“Mas, Rabo besok hari terakhir untuk pembayaran uang kuliah Dik ES,” istri saya mengingatkan. Saya tersenyum mengiyakan. “Uangnya ada?”
“Rabo pasti ada. Selasa besok Mas mau pergi ke bank lagi menanyakan kelanjutan kredit itu.”
“Jika tidak ada kabar atau mentok? Mending bank keliling atau pinjol.”
“Jangan risau, ragu, atau tidak percaya. Jika Mas meminjamkan uang itu ke Mbakmu, karena keponakanmu sakit, dan itu lebih penting. Sudah, jangan dipanjangi lagi,” tukas saya mencoba bersikap tenang. Saya juga tidak memikirkan pinjam uang seperti yang disarankan istri atau teman lainnya. Memang tidak ribet dan lebih cepat, tapi bunganya menjiret.
Saya tidak menyesal membantu berobat keponakan istri, meskipun jualan ketupat sayur sedang sepi, bahkan sering sisa. Sehingga makin sulit untuk menabung.
Saya genggam tangan istriku agar jangan ragu atau tidak percaya dengan kemurahan hati Tuhan. Saya ingatkan kembali mukjizat-Nya. Ketika tanpa pinjam ke bank atau menggunakan surat perjanjian di atas materai, Pak Mahmud yang asli Betawi itu meminta saya untuk membeli rumah kontrakannya itu secara mencicil.
Apakah itu suatu kebetulan? Tidak! Bagi orang yang percaya dan mengimani Tuhan, hal itu adalah rencana dan ketetapan-Nya!
Saya juga mengingatkan peristiwa anjing yang melolong tiada henti di
tengah malam, meskipun telah ditenangkan. Hingga suara piring yang dibanting di meja kaca. Meski, faktanya, pagi itu tidak ada pecahan piring di meja atau lantai. Orang atau pesaing usaha yang tidak senang mengirim ilmu hitam?
Saya tidak mau memikirkan kejadian aneh dan berprangka buruk pada siapa pun juga, meski ketiga anak saya mendengar dan menanyakan kebenaran pecahan piring itu kepada kami.
Karena saya percaya, dengan iman yang teguh, anggota keluarga yang rukun dan saling mengasihi itu, maka keluarga kami dilimpahi hidup damai sejahtera dan bahagia serta dijauhkan dari yang jahat.
Pagi ini saya kembali ke suatu bank untuk menanyakan kembali kredit usaha kecil yang saya ajukan tempo hari. Ternyata saya harus kecewa, karena orang bagian kredit itu dimutasikan, dan pinjaman saya belum diproses!
Tubuh ini serasa lunglai dan tiada tenaga. Tapi saya mencoba tenang. Tuhan mempunyai rencana apa pada kami?
Ketika sedang berbincang dengan Mbak CS, seorang lelaki muda masuk. Kami beradu pandang dan kaget, karena saling mengenal.
“Pagi Pak Redjo…!” sapanya ramah. Ia lalu mengajak saya masuk ke ruangannya.
Ternyata sejak Senin kemarin Mas WN dimutasikan untuk jadi kepala KCP di bank itu.
“Nanti sore saya mau sowan ke rumah Bapak. Saya juga kangen sama Ibu,” janji Mas WN, ketika mengantarkan saya sampai pintu ke luar.
Saya mengangguk, tersenyum, dan mengucapkan banyak terima kasih. Mas WN itu anak sahabat istri saya, Mbak G yang pernah membantu di warung kami.
Aneh tapi nyata, tiba-tiba dada saya merasa plong dan lega sekali. Persoalan uang kuliah anak saya telah dijawab-Nya dengan indah.
Jangan ragu dan tidak percaya, tapi fokus pada Yesus dan kuasa-Nya (Mat 14: 31). Karena bagi-Nya tidak ada yang mustahil!
Mas Redjo

