Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup ini ibarat sebuah
biduk tengah
mengarungi samudra”
(Idiomatik Kehidupan)
Idiomatik Mondial
Secara mondial, orang-orang memaknakan, bahwa laju kehidupan yang tengah kita perankan ini, dapat diibaratkan dengan sebuah biduk yang tengah mengarungi samudra.
Sang biduk nan mungil yang tengah melenggok meliuk dipermainkan terpaan riak gelora gelombang samudra ini.
Dalam kondisi yang terombang-ambingkan ini, tentu sangat dibutuhkan keteguhan batin, kesigapan bersikap, dan kewaspadaan dari nahkoda untuk pandai membaca tanda-tanda bahaya ini di saat biduk meluncur di atas gelombang laut nan ganas. Tentu, kapan pula saat yang paling tepat ia perlu membentangkan layar demi segera ke luar dari arena amukan samudra ini?
Dalam kondisi riskan dan dramatis ini, satu hal teramat penting, bahwa nahkoda itu jangan sekali-kali meninggalkan biduknya.
Inspirasi dari Jenderal Leopardus Benediktus Moerdani
“Jangan pernah meninggalkan kapalmu,” demikian sebuah statemen bermakna yang pernah dilontarkan oleh Jenderal LB Moerdani di saat memberikan nasihat nikah pada hari pernikahan putri semata wayangnya.
Tentu ucapan yang sarat makna ini terlontar dengan penuh kesadaran, karena prinsip hidup nan agung ini, telah beliau jalani selama masa kedinasannya sebagai seorang prajurit hingga dijemput maut.
Oh, ke Manakah Arah Perahu
Sambil menulis kisah inspiratif ini, spontan saya teringat akan penggalan syair lagu khas Gereja Katolik berikut ini.
“Oh, ke manakah arah perahu, tiada angin membantu. Oh, serasa abad berlalu, serasa niat memburu.”
“Siapkanlah sampanmu, bentangkanlah layarmu, siapkanlah hatimu, menghadap Tuhan.”
Kita sedang Berada di Atas Kapal Kehidupan
Entah sadar atau tidak, sejatinya sangat riil, bahwa masing-masing kita, kini sedang berada di atas sebuah kapal kehidupan.
Ada kapal personalitas, kapal keluarga, kapal kedinasan, kapal pemerintahan, kapal berorganisasi, dan juga kapal panggilan hidup khusus lainnya.
Yakinlah, di atas kapal jenis apa pun kita berada, sudah pasti kita akan mengalami, merasakan, mencemaskan, menderita, menantang, bahkan terbawa arus, serta aneka tantangan lainnya.
Dalam kondisi yang sangat menantang ini, kita seolah diuji, ditantang, didesak, dipaksa, dipermalukan, dituduh, difitnah, dan bahkan disingkirkan.
Apa reaksi kita di saat menghadapi realitas yang sangat menantang ini? Anda akan terjun bebas? Membunuh diri? Berbalik untuk membalas?
Dalam konteks permenungan ini, satu kepastian yang sangat kita rindukan adalah …
“Hendaknya Anda, jangan pernah meninggalkan kapal kehidupanmu!”
Karena inilah sebentuk kesetiaan yang tiada akhir!
Kediri, 31 Maret 2025

