“Apa pun mitosnya, jika disemai dalam pikiran itu bakal menjerat hati kita ke lorong mistis.” -Mas Redjo
Disadari dan diakui, atau tidak, ketika pikiran ini dijerat suatu mitos, kita jadi tidak tenang. Kita takut tanpa sebab dan alasan, suatu hal buruk itu seakan bakal terjadi dan dialami. Kita jadi ngeri sendiri.
Teringat jelas oleh saya, awal tahun 90an kantor tempat bekerja saya menempati nomor 12E, seharusnya nomor 13, lalu ke 14. Ada apa ini?
Saya tidak mempercayai mitos itu. Bahwa angka 9 itu membawa hoki dan keberuntungan, sedang 13 itu adalah angka sial yang harus dihindari.
Bagi saya pribadi, semua angka itu baik, sebagaimana dunia beserta isinya diciptakan Tuhan itu amat baik adanya (Kej 1: 31).
Jika saya senang menggunakan angka 13, di antaranya untuk nomor telepon, rekening bank, mobil… itu tidak untuk pembuktian diri. Tapi sebagai pembelajaran untuk bijak menggunakan logika.
Puji Tuhan, selama ini saya tidak mengalami kesialan dan hal-hal yang mistis.
Pola pikir saya sederhana. Ketika kita mengalami hal-hal buruk itu tidak didasari pemilihan angka 13. Bisa terjadi, karena kita sembrono, teledor, ugal-ugalan, dan tidak hati-hati, sehingga alami kecelakaan atau musibah.
Begitu pula dengan angka 9 yang berarti hoki dan keberuntungan. Apakah orang yang malas belajar dan malas bekerja yang memakai angka 9, dijamin rezekinya lancar?
Kita tidak asal otak atik gatuk, tapi coba ditelaah dengan bijak. Tidak seharusnya pula kita mempercayai mitos yang tidak ada juntrungannya itu.
Percaya mitos itu menjauhkan kita dengan Tuhan. Tapi takut akan Tuhan itu sumber kebijaksanaan hidup bahagia.
Mas Redjo

