Oleh : Jlitheng
| Red-Joss.com | Menyimpulkan ala ‘bakul sinambi wara’. Selain salah bisa menjadi fitnah.
Si A berjumpa B di BXC.
“Lho, tadi ke gereja mana?” tanya A.
“Di Sana. Loe?” jawab B.
“Saya tadi di Sono, jarang di gereja sendiri. Khotbahnya garing,” kata A. “Pantesan saya sering melihat C di …, bosen katanya,” sambung A. (Contoh bakul sinambi wara).
Arti ‘tembang rawat-rawat, ujare bakul sinambi wara’ adalah perumpamaan yang menggambarkan keadaan tentang penyebaran kabar yang belum tentu benar.
Pepatah itu sebenarnya sudah menunjukkan maknanya, bahwa tembang atau nyanyian yang hanya terdengar secara samar-samar tentu kejelasan syairnya tak bisa dipertanggungjawabkan. Demikian pula berita yang disampaikan oleh Mbok bakul yang cara memberitakan atau memberitahukannya disampaikan sambil lalu (karena pekerjaan utama Mbok bakul itu berjualan – bukan penyampai berita).
Umumnya para bakul di pasar memang senang mengobrol dengan teman sesama bakul. Saat ngobrol atau ngerumpi semacam itu biasanya berita / informasi yang disampaikan tidak murni lagi. Kadang ditambah atau dikurangi. Sehingga dengan demikian berita / informasi yang disampaikan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Pepatah ini mengingatkan agar kita jangan mudah percaya pada berita atau kabar apa pun yang tidak akurat.
Juga, agar kita tidak menarik kesimpulan ala Mbok bakul sinambi wara. ‘So, don’t judge the book by it’s cover’.
Sebab hal yang demikian, jika diterima atau disampaikan kepada orang lain menimbulkan ketidakjelasan, kebohongan, dan bahkan fitnah.
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22)
Tidak henti menginspirasi.
Jlitheng

