Masih tentang kemiskinan. Kurang tidur, ngetiknya salah melulu, jadi lambat.
Sumber kemiskinan rohani ada di mulut, tangan, mata, dan hati.
Miskin dari Mulut:
Orang yang miskin jenis mulut itu tandanya melimpah keluh-kesah, tidak puas, menggerutu, dan tidak bersyukur. Yang miskin ini cenderung membara dan mudah menyala. Sehingga yang namanya tenteram seperti enggan mendekat.
Miskin dari Tangan:
Sikap yang berbeda dengan kasih Ibu. Yang ini hanya mau menerima dan enggan memberi. Sepertinya kurangnya empati, kepedulian, atau keinginan untuk berbagi dengan orang lain, baik dalam bentuk materi maupun jasa. Senang tampil tapi enggan latihan.
Miskin dari Mata:
Dasarnya dari hati yang hanya bisa melihat kebaikan diri saja, yang akan menyebabkan prasangka, tidak mudah tepo seliro, dan sulit membangun relasi yang sehat dengan orang lain. “Sing waras ngalah.” Tapi yang tidak waras itu sebetulnya siapa?
Miskin dari Hati:
Tentang ketidakmampuan kita melihat orang lain senang, disertai dengan rasa iri, dengki, dan cemburu. Hatinya tertimbun rasa sesak.
Kita memang miskin, tapi semangat kita harus kaya karena dekat dengan Tuhan (Matius).
Miskin rohani diartikan sebagai orang yang sadar akan ketergantungannya pada Allah. Kita akui ketidakberdayaan dan kebutuhan rohani kita, dan mencari Allah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Ini adalah keadaan saat kita akui diri ini lemah di hadapan Allah, bukan karena kekurangan materi, melainkan karena kekurangan rohani. Bukan usaha kita yang memenuhi, tapi kemurahan-Nya.
Salam sehat.
Jlitheng

