“Tidak ada yang sulit untuk merubah kebiasaan buruk, asalkan kita miliki niat dan tekad yang kuat.” – Mas Redjo
Awalnya adalah kebiasaan istri yang menyalakan lampu di dalam rumah, meski siang hari, dan cuaca tidak mendung. Warisan dari orangtua yang menempati rumah dinas dan biayanya pemeliharaan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.
Sekali, dua, tiga, hingga berkali-kali saya mengingatkan istri agar lampu rumah dimatikan, jika tidak dipakai. Karena bayar listriknya mahal.
Karena istri sering abai, tidak peduli, dan lalu muncul konflik kecil, saya mengalah untuk mematikannya. Jika konflik kecil itu dipendam berlarut-larut, bakal membesar dan menghanguskan. Hal yang tidak diharapkan bersama.
Untuk menyiasati hal itu, saya lalu memanggil tukang listrik untuk memasang sensor dan ‘timer’ di tempat tertentu, terkoneksi, dan aman serta nyaman tanpa ribut. Sedang selisih biaya listrik itu saya manfaatkan untuk berbagi pada mereka yang kurang beruntung. Juga, karena sebagain rezeki itu milik sesama yang dititipkan Tuhan kepada kita.
Saya terinspirasi oleh nasihat bijak Bapa Paus Fransiskus, “Ketika kita membuang makanan berarti kita merampas hak orang miskin.”
Begitu pula, jika kita menggunakan listrik secara boros. Tapi, dengan bijak dan irit menggunakan energi berarti kita menyelamatkan bumi. Sekaligus kita hemat energi, dan ikhlas untuk berbagi.
Hal yang sama itu saya terapkan pada keluarga, jika makan bersama di resto untuk pesan makanan itu secukupnya agar tidak mubazir. Jika ada anggota keluarga yang pesan makan, tapi tidak dihabiskan agar bertanggung jawab untuk membayar semua pesanan itu. Bagi yang belum bekerja, uang jajan bulanannya dipotong.
Sejatinya, untuk merubah dan memperbaiki kebiasaan buruk itu tidak ada kata terlambat dan sulit, asalkan kita miliki niat dan tekad yang kuat. Anggota keluarga tidak segan untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan meneguhkan. Karena selalu ada solusi, jalan ke luar bagi kita yang bersemangat untuk berubah dan perbaiki diri.
Semangat perubahan itu ternyata menginspirasi kami pula untuk mengolah sampah rumah tangga, baik sayuran atau buah-buahah itu jadi ‘eco enzyme’ yang multi-manfaat!
Tetaplah semangat dan bermanfaat bagi kehidupan!
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

