| Red-Joss.com | Putaran jam dinding itu tidak pernah bisa berhenti. Hal itu menandakan waktu terus berjalan. Bahkan terasa sekali waktu berjalan amat cepat. Tapi ada juga yang merasa waktu berlalu tanpa kesan dan tanpa makna.
Matahari yang terbit dari ufuk Timur dan tenggelam di ufuk Barat terbungkus oleh waktu 24 jam yang tidak bisa dihentikan berdetak. Umur kita bertambah terus setiap hari. Bahkan tak pernah terpikirkan lagi berapa kali kita menghirup dan menghembuskan nafas melalui kedua lubang hidung kita. Otomatis, rutin, dan linier itulah yang terjadi.
Terlalu panjang untuk menambah segala sesuatu yang berjalan otomatis-rutin dalam kehidupan ini. Bagi orang yang tidak mau repot akan mengatakan: “biarkan hidup ini mengalir begitu saja!” Apakah demikian? Jawabnya: tidak!
Coba diingat, pesan Tuhan Yesus agar kita selalu berjaga-jaga alias waspada dan siap siaga. Mengapa? Karena kita tidak pernah tahu kapan Allah akan datang kepada kita untuk meninggalkan dunia ini. Hanya Bapa yang tahu waktunya.
Tahun liturgi Gereja ini membantu kita untuk berhenti sejenak untuk memaknai setiap peristiwa dan pengalaman yang kita lalui. Tujuannya agar kita menjadi pribadi yang terus berjaga-jaga.
Kita tentu pasti mengenal tokoh Yohanes Pembaptis. Ia adalah tokoh yang sangat rendah hati. Ia pernah mengatakan: “Ia harus makin besar (maksudnya Yesus), tapi aku harus makin kecil” (Yoh 3: 30). Yohanes Pembaptis sangat sadar akan jatidirinya, yaitu untuk memberi kesaksian tentang datangnya Terang (Yoh 1: 6-9). Dia adalah orang yang berseru-seru di padang gurun: “luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya” (bdk. Yoh 1: 23; Yes 40: 3). Dia adalah orang yang membaptis dengan air, sedangkan tokoh yang datang kemudian akan membaptis dengan Roh Kudus (Yoh 1: 33). Bahkan ia juga dikenal sebagai tokoh yang sangat berani. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1: 4), “Hai kamu keturunan ular beludak. Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat 3: 7-10). Dengan cara itu Yohanes Pembaptis mengajak kita menyiapkan hati untuk menyambut kedatangan tokoh yang dinantikan itu. Tokoh yang disebut kudus dan suci, agar hati kita juga harus dalam keadaan kudus dan suci.
Sesungguhnya kita diajak oleh Sang Utusan ini dengan melakukan laku tobat agar batin-rohani-spiritual kita menjadi lebih pantas dan layak di hadapan Allah.
Diakui, meskipun ini tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tapi kita bisa melakukan, jika mau berproses, punya tekad, ketekunan dan kesabaran, maka pertobatan itu akan terjadi. Semua itu membutuhkan pengorbanan. Tapi kalau pengorbanan itu untuk sesuatu yang lebih bermakna dan penting untuk hidup ini, apakah kita mau mengalah? Tidak. Waktunya sangat mendesak agar tidak ditunda-tunda lagi. Karena kita terlalu banyak menunda. Bahkan kesibukan, kita jadikan sebagai alasan untuk menunda pertobatan. Jangan menjadi orang yang terlalu naif dan permisif menunda pertobatan agar kita tidak menyesal di kemudian hari.
Semoga kita berani untuk melakukan pertobatan. Tuhan memberkati!
Rm. Petrus Santoso SCJ

