Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Niat-niat baikmu tidak pernah akan basi.”
Kisah mengharukan ini, kiranya dapat menginspirasi jutaan hati manusia agar tidak menunda untuk melakukan niat-niat baik itu!
Bermula, dari penugasan guru kepada para murid SMA, agar setiap murid berani mengungkapkan perasaan kasih sayangnya kepada seseorang … di dalam hidupnya.
Ternyata, ada seorang murid yang bagai mendapat durian runtuh, setelah dia berani mengungkapkan perasaan sayangnya kepada Ayahnya yang sudah lama tidak berkomunikasi efektif.
Guru bijak itu, akhirnya menagih janjinya untuk mendapatkan masukan, apa, reaksi dan hasil dari penugasan kemanusiaan itu.
Seorang murid melaporkan, bahwa relasi personal saya dengan Ayahku selama ini, memang dingin dan datar saja. Kami tidak pernah berkomunikasi terbuka, karena semua perasaan saya dan Ayah saya hanya terpendam dan diam-diam saja.
Tatkala guru menugaskanku untuk menyampaikan perasaan sayang kepada Ayahku, aku berjanji untuk segera melakukan itu.
Aku bergegas ke rumah Ayahku. Dengan hati berdebar, aku mengetuk pintu dan segera kudorong pintu rumah Ayahku.
Betapa terkejut, karena ternyata, Ayahku juga terkejut melihat sosokku berdiri di hadapannya.
Dengan tidak membuang-buang waktu, segera kuulurkan kedua lenganku, sambil merangkul Ayah, kuucapkan, “Ayah, aku sungguh sayang kepada Ayah.”
Apa reaksi beliau, dengan pelukkan yang sangat erat, beliau terisak-isak dan mengatakan, bahwa selama ini pun, Ayah sangat sayang kepadaku.
Setelah itu, suasana berubah drastis, mencair, dan semuanya terkesan serta tampak sangat indah.
Ternyata selama ini, relasi di antara kita terjadi dan terkesan kaku serta datar, besar kemungkinan, karena kita tidak berani mengungkapkan perasaan tulus, jujur kita kepada sesama.
Kita sangat sulit untuk menumbuhkan kecerdasan emosi kita dengan berani mengekspresikan, bahwa kita justru sangat sayang kepada mereka.
Mari, kita senantiasa belajar untuk tidak menunda kesempatan untuk menyatakan kasih sayang kita kepada seseorang.
Jika cinta itu bertumbuh di dalam sanubari manusia, maka tidak ada istilah terlambat untuk mengekspresikan perasaan sayang kita kepada sesama.
“Jika kita saling mencintai, Tuhan hadir di sana.”
Kediri, 14 Agustus 2025

