Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Matahari terbit adalah simbol fajar harapan, sedangkan matahari terbenam adalah simbol akhir penziarahan.”
(Amanat Agung Sang Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Bukankah secara fakta dan sosial, bahwa kehidupan ini adalah suatu perjuangan? (vivere militere est).
Hidup dan kehidupan ini diartikan sebagai sebuah progres yang bergerak dari sebuah titik awal, dan disusul oleh titik-titik perjuangan, serta diakhiri pada sebuah titik akhir? Itulah deskripsi gerakan alur / plot kehidupan secara linier / lurus.
Sesungguhnya, hidup manusia sejati itu bagai gerak hidup sang peziarah.
Peziarah sejati itu hanya fokus pada titik harapannya. Ia akan menatap dan memandang tajam hanya ke arah tujuan ziarahnya.
Tulisan refleksi filosofis ini, bertujuan mengajak manusia, selaku sang ‘viator mundi’ untuk senantiasa menyadari akan eksistensi dan tujuan akhir hidupnya.
Di dalam proses perjuangan lewat lorong-lorong sempit dalam ziarah yang menantang ini, dia perlu memiliki sebuah visi dan fokus hidup yang mantab serta pasti arahnya.
“Jangan Menoleh!” Adalah sebuah ajakan atau perintah (verba imperatif), yang mengandung makna konotatif dan filosofis.
“Jangan Menoleh,” artinya jangan melihat ke belakang. Kita jangan mau berbalik arah lagi. Lihatlah ke depan, itu tujuan hidup kita!
Mengapa peziarah sejati diharapkan agar jangan menoleh? Jika menoleh, berarti dia masih sangat terikat dan terpaut pada tempat dan masa lampau.
Dalam konteks ini, peziarah sejati diajak untuk melepaskan ikatan masa lalu hidupnya. Dia perlu bersikap lepas bebas dan tidak meratapi akan keberadaan di masa lalunya.
Sesungguhnya hidup ini sebuah
perjalanan dan tujuan yang akan dicapai oleh sang peziarah tepat pada waktunya.
Hukum kehidupan mengajarkan pada manusia, bahwa sebuah kegagalan hidup lebih banyak terjadi, justru ketika peziarah itu kehilangan fokus dalam hidupnya.
Dia seolah-olah telah tersandera oleh kilauan pernak-pernik kehidupan yang menyilaukan mata sadarnya.
Itulah yang kita sebut sebagai godaan hidup.
“Jika Anda berani menoleh, maka Anda akan mematung di tempat dan menjadi bagai tiang garam.”
Sadari, di dalam ziarah hidup ini, hendaknya kita mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya.
Ke mana kita akan melangkah? Untuk itu, kita perlu bersikap berani untuk melepaskan ikatan masa lalu, dan ikhlas.
…
Kediri, 26 April 2024

