“Don’t juge a person by it’s cover.” – Rio, Scj.
| Red-Joss.com | Dalam hidup ini ada yang bisa kita kendalikan, tapi ada yang tidak bisa. Kita tidak bisa mengendalikan keadaan. Kita tidak bisa pula mengendalikan komentar, omongan, lontaran, atau tulisan orang lain. Berhadapan dengan yang tidak bisa kita kendalikan adalah dengan mengendalikan respon, karena hal itu pilihan bijak.
Kita tidak perlu marah dengan hujatan lambe turah. Tidak perlu sakit hati atas nyinyiran nitizen +62. Juga kita tidak perlu terpukul dan putus asa saat jutaan komentar negatif menimpa. “It’s OK.” Tidak perlu dimasukkan ke hati. Jauhkan bila perlu. Bersikap kalem, santai dan tetap tenang, kita tidak perlu menyalahkan dan mencari kesalahan. Karena itu ciri seorang pemenang.
Jika kita pelakunya, mungkin tanpa disadari dan sekadar untuk lucu-lucuan atau bercandaan, tapi hal itu menyakiti. Kita harus berhenti melakukan itu. Karena kita harus bisa berteman dengan orang lain.
Zaman sekarang kita sulit untuk memahami, menghormati, apalagi menghargai. Sehingga kita mudah untuk menghakimi. Karena itu kita jangan menilai orang dari sampulnya. Kadang kita kena tipu. Kelihatan keren, tapi nyatanya kere. Keliatan kere, tapi keren. Antara kere dan keren yang membedakan cuma huruf ‘N’.
Tuhan yang mempunyai hak untuk menghakimi saja tidak suka menghakimi. Kita malah hoby menghakimi. Liat orang sederhana dan irit dibilang pelit. Ada orang rajin doa dibilang sok suci. Ada orang murah hati berderma dibilang pamer dan pencitraan. Ada orang ramah, dibilang tebar pesona. Itulah dunia, tepatnya itulah kita manusia. Suka melihat orang susah, tapi susah melihat orang senang.
Ingatlah yang suka menghakimi itu akan dihakimi. Yang menghakimi itu bukan manusia, tapi Tuhan yang kita imani. Dia yang akan menjadi hakimnya.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

