Kadang kita bersikap sangat kompromistis terhadap kesalahan dan memaafkan diri sendiri, tapi sangat arogan mengeritik dan menghujat sesama atas dosa dan kesalahan yang sama.
Dalam Injil, Yesus menganjurkan kesadaran baru dengan berlandaskan nilai kerendahan hati, bila kita ingin mengeritik orang lain. Firman-Nya, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”
Untuk kita renungkan:
- 1) Setiap kali ada keinginan dalam dirimu untuk mengeritik dan memarahi orang lain, karena adanya kesalahan dan dosa, maka berdirilah di depan cermin dan tanyakan pada dirimu, “apakah Anda juga telah melakukan kesalahan dan dosa yang sama?”
- 2) Janganlah berbicara tentang hidup keagamaanmu kepada orang lain, bila imanmu tidak mampu menggerakanmu untuk berbuat baik kepada sesamamu;
- 3) Kurangilah pembicaraanmu tentang agamamu, dan sebaliknya banyaklah berbuat baik, maka orang akan tahu inti keagamaanmu. Dengan kata lain biarlah perbuatan-perbuatanmu berbicara tentang agamamu kepada orang lain.
Akhirnya ingatlah, bahwa setiap kali Anda mengeritik orang lain, maka ingatlah, bahwa mungkin Anda lebih buruk daripada mereka dalam kesalahan dan dosa yang sama.
Monsignor RD Inno Ngutra

