| Red-Joss.com | Jangan manjakan anak dengan kemudahan agar tidak kebablasan. Anak menjadi malas, jelek adat, dan menderita. Lebih baik diarahkan dengan pengertian agar anak itu menjadi pejuang tangguh dan bijaksana.
“Untuk keponakan, Pak,” jelas ED, ketika saya mengomentari hp-nya yang baru.
“Nggak salah? Jangan sampai jadi bumerang untuk Ibumu,” kata saya mengingatkan.
Bumerang, karena Ibu ED tinggal berdua dengan anak adiknya yang telah menikah lagi. Belum lama ini Ayahnya meninggal, karena sakit. Sedang adiknya tinggal bersama suaminya yang baru di desa yang tidak dari rumah Ibunya.
Tujuan ED membeli hp lagi, karena hp lama itu mau diberikan pada keponakannya itu. Ia kasihan. Keponakannya tidak mempunyai teman bermain dan untuk hiburan. Padahal anak itu masih kelas 1 es-de.
Berbeda halnya, jika hp itu untuk Ibunya. Meski begitu, Ibunya juga harus streng dalam mengawasi cucunya. Tapi apa bisa?
Saya meminta ED agar dipikir ulang agar tidak salah langkah. Memberi kemudahan untuk hal-hal positif itu baik, asal diawasi dan diarahkan demi kemajuan dan kebaikan anak.
Faktanya, banyak orangtua yang abai, tidak mau repot, dan mau mudahnya… asal anak tidak rewel. Sehingga anak jadi kecanduan hp, reaktif, mudah emosi, dan banyak pengaruh negatif lainnya. Akibatnya pun bisa fatal.
Beruntung pula, karena ED belum bercerita tentang pemberian hp itu pada keponakannya. Sehingga ia menjadi tenang. Lalu untuk apa hp itu?
Saya ingat dengan slogan ‘teliti sebelum membeli’ agar tidak salah memilih, dan menyesal belakangan. Membeli suatu barang itu sesuai kebutuhan dan kegunaannya, tidak hanya sekadar menuruti nafsu keinginan dan demi gengsi.
“Ya, anakku, berusahalah untuk mempunyai pikiran yang tajam dan mintalah pengertian (Amsal 2: 3).
…
Mas Redjo

