“Hidup adalah nilai pertanggung-jawaban kita kepada Tuhan yang anugerahi hidup ini.” – Mas Redjo
…
Karena itu, meskipun tidak diminta, saya selalu membiasakan diri untuk sesegera mungkin menuntaskan pekerjaan yang dipercayakan Bos kepada saya.
Saya tidak menunda pekerjaan, karena tidak mau membuang waktu secara percuma dan sia-sia. Saya juga tidak mau mengecewakan Bos yang memberi pekerjaan itu.
Selain tentu saja, menunda berarti menumpuk pekerjaan, beban, dan itu candu yang membuat kita jadi malas.
Apalagi dengan hidup sendiri. Jika kita tidak mau dikecewakan orang lain, ya, jangan mengecewakannya.
Terlebih istimewa dan terutama itu dengan Tuhan yang telah anugerahi hidup ini.
Saya sungguh bersyukur, karena dianugerahi sadar diri. Peristiwa iman dan pahit manisnya hidup ini menempa saya untuk jadi pribadi yang sabar, tabah, dan rendah hati.
Awalnya adalah, ketika sebagai aktivis Gereja, saya memperoleh undangan menghadiri tahbisan Imam.
Seorang Imam mensyeringkan motivasi panggilannya, “Selidikilah aku, ya, Allah, dan kenalilah hatiku …” (Mazmur 139: 23-24).
Motivasi hidup panggilan itu amat menyentak hatiku. Mengapa Tuhan harus menyelidiki aku? Ia melihat dan bersemayam di hatiku.
Lama sekali saya mencerna dan merenungkan ayat itu. Sehingga mata hati saya dibukakan oleh-Nya.
Ternyata saya diajak, disadarkan Tuhan untuk berefleksi diri, dan berubah agar saya tidak main-main dengan hidup sendiri. Tapi hidup ini harus dimaknai dan berguna bagi orang lain.
Semangat perubahan hidup itu saya pigura lalu saya pasang di cermin hatiku:
“Sedahsyat-dahsyatnya bencana alam, yang terdahsyat itu adalah bencana jiwa agar kita bertobat dan selamat.”
…
Mas Redjo

