Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kematian adalah sebuah kepastian abadi.”
…
| Red-Joss.com | “Barang siapa dilahirkan ke atas bumi maya ini, dia pun harus siap untuk menerima sebuah kepastian abadi, ialah menghadapi rangkulan kuku-kuku maut, sang kematian,” celetuk para bijaksanawan.
Jika kematian itu sungguh merupakan sebuah kepastian, maka marilah kita, terus belajar untuk senantiasa sadar, jangan lupa mati.
Di bumi ini, kita sejatinya hanyalah seorang pengembara, sang musafir gurun terlunta tertatih. Karena kita hanya numpang lewat, untuk sejenak mengaso.
Di dunia ini pun, Anda dan saya, kita boleh berharta dan bermilik, karena itu adalah rezeki dari Tuhan untuk kebahagiaan hidup.
Bahkan, kita pun boleh mengasihi dan mencintai anak dan pasangan kita. Juga, silakan membangun kemegahan istana dan kemewahan hidup, tapi semuanya itu bukanlah sebuah kepastian. Karena suatu saat kelak, kita harus siap untuk berpisah dengan siapa dan apa pun itu.
Pernahkan Anda, di suatu ketika, turut di dalam sebuah arak-arakan peti jenazah? Atau mungkin, bahkan pernahkah Anda memandikan jenazah? Apakah yang Anda sempat renungkan di saat itu?
Sungguh sang kematian itu, seolah sedang mengintai Anda dan saya. Mungkin, dia sempat bergurau dengan kita, “Ingat, besok, giliranmu, ya!”
Dalam konteks ini, orang Latin punya adagium jitu, “Hodie mihi cras tibi.” Hari ini giliran saya, besok giliranmu.
Mungkin juga di saat Anda turut di dalam sebuah antrean kematian, pernahkah Anda iseng-iseng bertanya, “Tuhan, kapan giliran saya?”
Sejujurnya, sesuai pengalaman dan penghayatan hidup ini, rupanya sungguh sulit bagi kita untuk mengingat dan merenungkan peristiwa kematian itu. Kita sering bersikap seolah akan hidup abadi di atas bumi maya ini. Sungguh cepat kita melupakannya. Padahal, bukankah peristiwa kematian adalah sebuah kepastian?
Memento Mori (ingatlah akan ajalmu!)
…
Kediri, 29 Desember 2023

