“Pak, kalau ada orang yang tidak pernah menderita, hidupnya berlimpah, tapi enggan jadi bagian dari solusi, ketika saudaranya mengalami kesulitan. Gimana itu, ya …?”
“Kalau aku, sih, terus terang muangkel banget,… Pak. Terbersit tanya di hati ini, mengapa begitu, Tuhan?” lanjutnya.
Sikap yang begini ini ibarat kacang lupa kulitnya. Lupa, bahwa yang kita punyai dan nikmati di dunia ini hanya sementara. Karunia Tuhan dan bukan milik kita sendiri. Harus dibagi.
Kisah Lazarus, orang miskin yang menderita jadi pengingat kita agar siapa pun, terutama yang telah berkecukupan hidupnya, tidak abai dengan orang yang menderita, ketika hidup di dunia. Jika abai, deritanya hanya ditunda, sebab keadilan Tuhan pasti jadi, waktunya yang tidak kita tahu.
‘Muaaangkellll .. yo uwis’, tapi jangan membenci. Ikhlaskan, jika bisa dan doakan.
“Hai kacang , jangan kau lupa kulitmu!”
Salam sehat.
Jlitheng

