“Niat untuk berbuat baik itu tidak cukup. Jika diwujudkan dengan hati itu anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
…
Memperlakukan orang lain seperti pada diri sendiri. Hukum tabur tuai ini yang harus jadi nafas hidup umat beriman.
Sederhana, tapi sulit untuk dijalani. Ketika kita berhenti diangan-angan dan niat baik semata. Kita merasa paham, tapi konyolnya malas dan tidak mau melakukannya.
Berbuat baik itu harus dihidupi dan jadi nafas umat beriman, karena anugerah Tuhan yang luar biasa agar kita murah hati.
Meneladani St Teresa
Saya terinspirasi dan termotivasi dengan pribadi St Teresa, dan belajar untuk meneladaninya dalam hidup keseharian.
“Mengenali diri sendiri membuat kita berlutut dalam kerendahan hati.”
Berbuat baik adalah nafas hidup umat beriman. Dasarnya adalah semangat rendah hati agar kita saling mengasihi.
Orientasi dan motivasi berbuat baik itu datang dari hati yang mengasihi. Ketika kebaikan itu tidak ditanggapi dan tak dipedulikan, kita tetap fokus untuk melakukannya. Tujuan hidup kita juga tidak menuntut dikagumi, dipuji, apresiasi, dan dihargai. Tapi mengasihi.
Sejatinya, berbuat baik itu bukan pilihan, melainkan panggilan hati. Kita dipilih dan diutus Tuhan untuk menguduskan sesama, dan diri sendiri.
Caranya adalah menafasi hidup ini dengan mengedepankan semangat kerendahan hati untuk mengasihi dan memberkati sesama.
Ketika dihina dan disakiti, kita menerima hal itu tanpa ingin untuk membalas, tapi mengasihi orang itu dan mendoakannya.
Kita mengalah dalam perdebatan, meskipun benar. Kita menerima pertentangan dan kritik itu dengan senang hati, karena hidup ini untuk berhikmat.
Kita tidak mengingat kesalahan orang lain, karena kasih itu lemah lembut, sabar, dan murah hati.
Jika ingin miliki semangat rendah hati, pilihlah jalan tersulit untuk mengasihi mereka yang memusuhi itu dan mendoakannya.
Hati yang mengasihi, karena kita alat-Nya!
…
Mas Redjo

