“Mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah. Tapi dengan berdoa dan berserah, beban hidup diringankan. Hari-hari jadi cerah dan indah.” – Mas Redjo
…
Prihatin melihat kesulitan sesama itu tidak cukup. Yang utama dan penting adalah kepedulian kita untuk membantu dan meringankan beban hidup mereka.
Kita membantu dan berbagi pada sesama itu tidak melulu dengan materi. Bisa juga lewat perhatian, pemikiran, senyuman, dan doa ikhlas. Kita memberi semangat hidup untuk peneguhan mereka agar sabar, tabah, dan berserah pasrah.
Hal itu saya lakukan, di antaranya pada beberapa langganan, tempat saya biasa membeli sarapan pagi. Dampak resesi global itu, harga bahan pangan melonjak, phk di mana-mana, dan krisis pembeli.
Saya terenyuh mendengar cerita penjual makanan itu, seperti tukang ketoprak, ketupat sayur, atau gado-gado. Omset mereka anjlog hingga lebih dari 50%!
Awalnya mereka mengurangi barang dagangan, tapi tetap sisa. Jika makanan itu layak dimakan, untuk dibagikan pada tetangga. Lama kelamaan modal kian susut, bahkan dana simpanan terpaksa diambil untuk menyuntik modal lagi.
Tidak hanya menggerus modal, usaha yang sepi itu juga membuat banyak pedagang malas berjualan, libur, dan tidak sedikit yang stres, bahkan jatuh sakit.
Penghiburan, peneguhan, dan sejuta motivasi seakan tiada guna, karena tidak mampu merubah realita itu jadi membaik dan usaha lancar lagi.
“Selalu bersyukur, Kang agar kita diberi kekuatan untuk sabar dan tabah menjalani semua ini. Yang penting kita diberi sehat. Jika kita banyak pikiran dan sakit, semua jadi repot dan runyam,” kata saya pada Kang Ketupat.
“Iya sih,” angguk Kang Ketupat membenarkan. Ia lalu bercerita tentang sesama pedagang yang sakit, karena asam lambungnya langsung tinggi, sehingga opname.
“Mungkin kita diingatkan Gusti untuk datang pada-Nya…”
“Maksudnya…?”
“Maaf ya, ini menurut pengalaman sendiri. Bagi saya, usaha sepi atau ramai itu anugerah Tuhan agar kita selalu bersyukur. Ketika usaha sepi, mungkin kita harus libur, istirahat, atau makin mendekatkan kepada-Nya. Mungkin juga, saat usaha ramai, tanpa disadari kita melupakan-Nya.”
“Bagi saya pribadi, rezeki itu tidak melulu materi, tapi kesehatan, rajin usaha, dan tekun berdoa agar kita makin mendekat pada Tuhan.”
“Misalnya, sambil menunggu pelanggan, kita berdoa atau baca buku rohani. Yang penting, tidak putus dan hilang harapan, karena iman. Tapi makin meneguhkan kita untuk sabar, tabah, dan tawakal.”
“Selalu berharap pada belas kasih Tuhan, Kang, karena Dia Maha Baik dan murah hati.”
“Amin,” kata Kang Ketupat dan lontong sayur itu lirih.
Saya melihat senyum tipis di bibir itu seperti menumbuhkan harapan mereka kembali. Untuk bangkit kembali dan optimistis menyambut hari esok yang lebih baik.
…
Mas Redjo

