| Red-Joss.com | Kegelisahan setelah kita jatuh dalam dosa, yang ditinggalkan adalah rasa bersalah, menyesal, dan ketidak-mampuan untuk memandang kasih Tuhan.
Hal ini berbeda, ketika kita digoda supaya berbuat dosa. Sama sekali tidak ada yang didengarkan. Kita tidak peduli Tuhan ada atau tidak. Dasar iman atau pengalaman iman yang dimilikinya lemah, maka kita ingkari suara hati nurani.
Bagi orang yang tidak beriman, hal itu tidak masalah. Tapi bagi yang beriman, melakukan kedosaan itu sungguh meninggalkan penyesalan. Hati ini jadi gelisah, karena rasa bersalah. Pertanyaannya, mengapa kita melakukan kedosaan itu berulang?
Pertama, karena si jahat tidak pernah berhenti menggoda.
Kedua, karena iman yang dimiliki masih mudah diberdaya oleh kenikmatan yang sesaat.
Ketiga, karena tidak taat pada suara hati yang sudah mengirimkan pesan untuk memilih yang baik.
Keempat, roh begitu kuat tetapi daging sangat lemah.
Pemulihan dari situasi berdosa menuju kepada pertobatan kembali dibutuhkan. Kepercayaan diri, karena dikasihi Tuhan itu penting agar kita melihat kasih Tuhan makin menyata bagi orang yang berdosa.
Jika pengalaman dikasihi Tuhan tidak dialami, maka hari nan gelap itu terus-menerus terjadi dan dialami. Sehingga kegelisahan dan ketidaktenangan hidup kita akan menciptakan rasa takut yang luar biasa.
Sesungguhnya, bagi siapa pun yang rindu untuk dipulihkan dari kedosaannya, kita harus duduk dengan tenang dalam hening. Menyesali sungguh kedosaan kita, dan mengatakan secara berulang-ulang:
“Yesus, aku ingin kembali.”
Bukti dari pemulihan itu terjadi, ketika kita merasakan damai dan tidak ada kegelisahan di hati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

