“Tidak selamanya yang lama dan rusak itu harus dibuang dan diganti.” – Rio, Scj.
Di zaman serba instan ini, budaya membuang merupakan hal biasa. Barang lama dan rusak dibuang. Ada model baru langsung membeli, lalu barang yang lama dimasukkan ke peti. Seolah yang lama itu sudah usang, ketinggalan zaman, dan jadul. Apa saja kita ingin yang ke luaran terbaru dan limited edition. Bahkan yang tidak perlu pun dibeli. Sehingga rumah jadi gudang, almari sesak barang, kulkas pun jadi tempat pembusukan.
Kreativitas dan ketrampilan memperbaiki dan menyelesaikan masalah mulai sirna dari kehidupan. Diganti dengan mentalitas mudah mengganti. Untuk apa repot, mending diganti dengan yang baru. Gampang, tidak ribet, dan lebih praktis.
Memang membuang yang lama dan mengganti dengan yang baru itu terdengar lebih mudah dan praktis. Hal itu membuat kita cenderung tidak mau susah dan tak tertantang untuk memahami masalah. Kita juga tidak terampil untuk menyelesaikannya.
Lebih menyedihkan lagi, mentalitas ini belakangan bukan hanya diterapkan pada barang. Tapi dalam pernikahan pula. Kita mudah bilang pisah dan menyudahi sebuah perkawinan, seperti mudah dislike, block, dan left dari group, dan seterusnya.
Ingat tidak semua yang telah rusak itu harus diganti. Ada saatnya kita harus belajar memperbaiki. Karena dalam kehidupan ini ada beberapa hal yang serusak apa pun tidak begitu saja dibuang dan menggantinya.
Belajarlah dari Tuhan, meski kadang kita rusak, berdosa, meninggalkan, bahkan menghianati-Nya, tapi Dia tetap berusaha memperbaikinya.
Sadari, cari tahu, dan berusaha untuk memperbaiki. Niscaya yang rusak bisa diperbaiki, dan tak harus diganti atau dibuang.
Tuhan memberi kesempatan pertama, kedua, ketiga bahkan berjuta kesempatan agar kita jadi lebih baik. Sehingga kita juga tidak seharusnya mudah membuang, menukar, dan mengganti dengan yang baru.
Bijak merawat barang, hemat pengeluaran.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

