“Jangan bersedih”, begitulah nasihatku untuk seorang sahabat. Saya berani mengatakan demikian, karena saat aku sedang mengalami kesedihan, sahabatku mengatakan kata-kata yang sama, “Romo, jangan bersedih, ya.”
Dalam kesedihan, kita diberi iman, kekuatan, dan semangat untuk saling menghibur.
Kesedihan, menempatkan kita pada situasi dan kondisi seperti ini: “Bersalah, tidak mampu, takut, gelisah, dan menyesal.”
Merasa bersalah, karena belum bisa membahagiakan pribadi-pribadi yang disayangi.
Merasa tidak mampu, karena banyak keterbatasan yang dimiliki.
Takut, karena banyak hal yang memberikan tekanan pada hidup yang sedang berjalan ini.
Gelisah, karena hati dibuat tidak tenang.
Merasa menyesal, karena seharusnya tidak melakukan hal-hal yang seperti itu.
Maka, hadirnya seorang sahabat harus bisa dan berani mengatakan, “Jangan bersedih.” Ini bukan ungkapan basa-basi, tapi ungkapan untuk memastikan, bahwa yang bersedih harus bisa bangkit, tersenyum, dan tertawa lagi. Bersemangat dan berjuang lagi.
Bangga, karena mempunyai sahabat seperti itu. Yang selalu ada, hadir, dan tidak meninggalkan kita! Sahabat sejati dalam suka duka.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

