“Jangan bersedih”, begitulah nasihatku untuk seorang sahabat. Saya berani mengatakan demikian, karena saat aku sedang sedih, sahabatku mengatakan hal yang sama, “Romo, jangan bersedih ya.”
Dalam kesedihan, kita diberi iman, kekuatan, harapan, dan semangat untuk saling menghibur. Sapaan seseorang itu akan memberikan energi yang baru. Kehadirannya memberikan kebahagiaan. Dialog satu sama lain bisa membuka jalan baru untuk melangkah bersama.
Kesedihan itu menempatkan kita pada situasi dan kondisi seperti ini: “Bersalah, tidak pantas, tidak mampu, takut, gelisah, dan menyesal.”
Merasa bersalah, karena belum bisa membahagiakan pribadi-pribadi yang disayangi.
Merasa tidak pantas, karena banyak perbuatan yang dilakukan menambah luka Tuhan dan melukai hati sesama.
Merasa tidak mampu, karena banyak keterbatasan yang dimiliki.
Takut, karena banyak hal yang memberikan tekanan pada hidup yang sedang berjalan ini.
Gelisah, karena hati ini dibuat tidak tenang. Menjalani pekerjaan, pelayanan, dan tidur juga tidak tenang.
Merasa menyesal, karena seharusnya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Menyesal, karena menyadari, betapa lemahnya kita dan mudah ditaklukkan oleh godaan-godaan.
Sejatinya, dengan hadirnya seorang sahabat itu harus bisa dan berani mengatakan, “Jangan bersedih!” Hal ini bukan ungkapan basa-basi, melainkan ungkapan untuk memastikan, bahwa yang bersedih itu harus bisa tersenyum, tertawa, dan bangkit lagi. Sehingga pribadi yang bersedih itu lebih bersemangat untuk berjuang kembali.
Kita bangga, jika mempunyai sahabat yang tidak meninggalkan kita. Meski sahabat seperti itu tidak banyak, tapi ada dan nyata. Sahabat itu tahu betul yang sedang kita butuhkan. Selalu ada dan hadir, baik dalam suka maupun duka!
Rm. Petrus Santoso SCJ

