| Red-Joss.com | Bujang itu dipanggil dengan nama Jon Kemplu (baca: Jan Kemplo). Mungkin, karena Jon sudah terlalu sering mempertontonkan sifat kemplunya, kebodohan yang tingkatannya sudah menjèngkèlkan banyak orang. Seperti yang dia pamerkan di depan publik.
Ceritanya: “Baru saja saya ribut dengan tukang pulsa. Mas, … saya mau isi pulsa 100 ribu.”
Dijawab oleh tukang pulsa: “Berapa nomer hapenya, Mas?”
Kemplu: “Pikir saya, wah… mau apa orang ini (curiga) koq nanya-nanya nomer hape segala. Kan saya beli pulsa, kenapa dia nanya nomer hp? Saya harus waspada … Zaman ini penipuan sering terjadi lewat hape. Dia pikir saya ini bodoh ya? Maka, saya kasih nomer hape teman saya…”
Sambil tersenyum bangga ia menutup ceritanya itu. Dasar ‘kemplu’ … selalu saja gagal paham dan salah dalam ambil keputusan-keputusan. Lebih parah lagi,…. dia bangga dengan kebodohannya itu.
Harap maklum, Jon memang ‘kemplu’, maka ikutlah ilmu Firman: “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri jadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal itu menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (Amsal 26: 4-5).
Salam sehat.
…
Jlitheng

