Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Masalah dunia adalah,
bahwa orang bodoh sangat yakin, dan orang cerdas malah penuh
dengan keraguan.”
(Betrand Russell)
Sebuah Pepatah Bangsa
Pepatah bangsa kita, bahwa “Pikirkanlah dulu, sebelum Anda berbicara.” Ya, itulah sebuah amanat agung dari sang kearifan hidup. Amanat agung ini telah menjiwai seluruh warga bangsa ini, walaupun masih ada warga bangsa, yang tidak mematuhinya.
Mengapa kita harus bersikap demikian? Ya, karena bukankah ‘pikiran itu adalah pelita hati?’
Ini Masalah Dunia
Mencermati sebuah fenomena miring, bahwa yang sangat getol dan percaya diri di dalam berargumen, justru orang-orang bodoh, sedangkan orang-orang cerdas itu sangat berhati-hati dan ragu-ragu. Maka, filsuf Bertrand Russell beranggapan, bahwa realitas miring ini adalah masalah bagi umat manusia di dunia.
Bertrand Russell mengedepankan pemikirannya tentang hal-hal berikut ini berdasarkan fenomena riil.
- Di tengah kegaduhan dunia kita via media sosial, pihak yang banyak mengoceh justru orang-orang yang tidak banyak pengetahuannya. “Tong kosong, nyaring bunyinya,” demikian peri bahasa bangsa kita.
- Bahwa kebodohan (orang bodoh), justru bertingkah dengan sangat percaya diri, sedang si cerdas, justru berjalan lamban dan berhati-hati.
- Mengapa si tolol justru sangat percaya diri dalam berargumen?
- Apakah sifat keraguan itu sebagai isyarat sebuah kelemahan ataukah justru sebagai sebuah kekuatan utama dalam berpikir?
(Dari Berbagai Sumber)
Idealisme Bertrand Russell
Mencermati fenomena miring ini, beliau justru mengidealkan, bahwa “bagaimana kita bisa menciptakan sebuah ruangan spesial baru, di mana sikap keraguan dan refleksi diri, justru sangat dihargai, dan bukan dianggap sebagai sebuah kelemahan?”
Apa pandangan dan pendapat Anda berdasarkan idealisme Bertrand Russell?
Menciptakan sebuah ruangan spesial, bahwa sikap keraguan dan refleksi mendalam itu, justru dianggap sebagai sebuah kekuatan ideal. Mengapa? Bukankah orang-orang yang berpikiran luas dan mendalam itu, biasanya akan bersikap sangat cermat serta berhati-hati dalam beragumen?
Mengapa demikian? Mereka sangat mengutamakan sikap rasional dan bukan sekadar mau melampiaskan emosi sesaat. Dalam konteks ini, penulis menyodorkan kembali adagium kearifan kita, “Pikirkan dulu matang-matang, sebelum Anda berbicara.”
Refleksi
Mengakhiri tulisan ini, saya menyodorkan sebuah peri bahasa dan mengajak Anda untuk turut berefleksi, “Tong kosong akan nyaring bunyinya.”
Kediri, 18 Mei 2025

