“Kebosanan itu muncul, ketika kita kehilangan kasih untuk selalu mengucap syukur atas anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
Saya sangat bersyukur dianugerahi seorang istri yang senang masak memasak dan hasil olahannya itu tidak membosankan. Selain enak, juga disenangi oleh anak-anak.
Sebagai contoh, bahan dasar yang digunakan tempe, tapi dapat diolah jadi tempe goreng, bacem, kering, atau bergedel. Juga tempe itu dapat diolah untuk jadi sayur.
Bersyukur, untuk selalu bersyukur itu juga saya hidupi dalam perilaku keseharian agar yang saya tekuni atau lakukan itu tidak membuat saya jadi malas dan bosan, serta macet di jalan. Lalu saya balik jalan untuk pergi bersama keegoan diri.
Saya sadar-sesadarnya, sebagai penulis dan berbagi hal-hal baik serta positif itu tidak cukup sekadar berteori, tapi juga harus dihidupi dengan perilaku agar seia-sekata, dan klop.
Resep saya untuk selalu komitmen, konsekuen, dan konsisten dalam berbagi kebaikan itu adalah tugas saya sebagai penerus. Saya dikirimi oleh teman-teman yang baik untuk diteruskan ke orang lain agar tidak sia-sia dan mubazir. Saya dikarunia kasih Tuhan agar orang lain juga merasakan hal yang sama dengan yang saya alami dan untuk disyukuri.
Selalu memohon berkat Tuhan agar saya disertai-Nya untuk fokus jadi alat-Nya dan dimampukan untuk rendah hati.
Saya tidak alergi dengan karunia kasih Tuhan, karena yang diterima itu untuk diteruskan dan dibagikan. Tulus tanpa prasangka, melepas ikhlas tanpa merasa kehilangan, dan memberi tak harap kembali. Sehingga hati pun tentram, damai, dan bahagia.
Bersyukur dan selalu bersyukur, karena Tuhan berkenan menggunakan saya jadi alat-Nya.
Mas Redjo

