Banyak jalan pintas, tapi jalan itu tidak diambil oleh Santo Yusuf. Berbeda dengan kita yang menyukai jalan pintas. Bahkan selalu mencari-carinya.
Jika mungkin bertanya, “Di mana ada jalan pintas?” Santo Yusuf tidak melakukan itu. Dia berbeda dan mengikuti proses. Dia menjalani yang dikehendaki dan mengikuti rencana besar Tuhan. Dia taat, sabar, dan berani. Pribadinya sudah matang dan ia dewasa dalam iman.
Bagaimana dengan kita, masih suka dengan jalan pintas? Untuk apa sebenarnya? Menemukan kebahagiaan? Ingat, kebahagiaan yang dipaksakan itu justru menyakitkan, membuat kita tidak jujur dengan keadaan, dan bersifat semu.
Hal itu tidak terjadi pada diri Santo Yusuf. Gelisah, ya, ia gelisah. Tapi di tengah kegelisahan dan ketidak-bahagiaanya itu dia memilih untuk mengikuti rencana Tuhan yang mengajarkan kebahagiaan dan yang dinantikan dunia, yaitu lahirnya Sang Immanuel.
Fokus yang didengarkan oleh Santo Yusuf adalah … “She has conceived by the Holy Spirit, and now she will bear a son. You shall call him “Jesus” for he will save the people from their sins.” Tuhan bisa mengubah rencana dari ketidak-bahagiaan yang dialami oleh manusia itu jadi kebahagiaan yang meluas.
Kita perlu bersabar sedikit saat tidak bahagia. Kita jangan memaksa diri untuk jadi bahagia, saat tidak bahagia. Perlu didengar sebentar, mengapa Tuhan hari ini, “membiarkan diriku mengalami ketidak-bahagiaan?” Percayalah, bahwa Tuhan merencanakan yang terbaik agar kita sabar, tabah, dan rendah hati.
Selalu indah pada waktu-Nya!
Rm. Petrus Santoso SCJ

