Hidup pertobatan itu harus ada “dampaknya, hasilnya, manfaatnya, dan berkatnya.”
Dampaknya: hidup kita terasa lebih baik dari hari ke hari. Makin sadar memilih yang baik daripada yang jahat. Makin terbuka hati ini untuk datang kepada Tuhan, ketimbang menjauh dari-Nya.
Hasilnya: nilai kasih, pengampunan, kesabaran, kesederhanaan, dan kemurahan hati makin diasah dan dipertajam. Solidaritas untuk menolong, melayani dan memberikan diri pada sesama makin kuat. Hidup berbagi dengan sesama itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari panggilan kemuridan seperti yang kita jalani seperti sekarang ini. Apalagi jika kita membaca Injil Matius 25: 31-46. Kata-kata Yesus amat kuat untuk mendorong kita melakukan kebaikan-kebaikan. Karena, kebaikan itu selalu menghasilkan kebaikan yang lain.
Manfaatnya: dirasakan oleh diri sendiri dan oleh orang lain. Jika selama masa pertobatan ini kita berkeinginan untuk menjadi suci, lanjutkan usaha itu. Lalu, kita juga bisa merasakan “penyucian tubuh, jiwa dan roh ini”. Ada godaan yang datang, tapi malaikat dan Roh Kudus yang selalu mengingatkan dan menuntun kita pada kerinduan untuk jadi suci.
Berkatnya: kita jadi bagian dari indahnya kehadiran Gereja. Gereja hadir dalam kehidupan yang baik, benar dan suci dari para pengikutnya. Kita yang adalah bagian dari Gereja, Tubuh Mistik Kristus, hadir dengan antusias yang tinggi di tengah-tengah siapa pun, khususnya mengikuti kata-kata-Nya, “Apa saja yang kamu lakukan bagi saudaraku yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku.”
Sabda-Nya diwartakan, kita jawab Sabda-Nya itu dengan tindakan nyata, yaitu pertobatan, supaya kita konsisten dan tanpa ragu mengikuti perjalanan-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

