“Kemuliaan sejati dalam Kerajaan Allah bukan mencari kehormatan, melainkan hidup dalam kerendahan hati, belas kasih, dan kasih yang tulus.”
Sabda Allah mengingatkan kami, bahwa jalan menuju perjamuan Surgawi bukan lewat kesombongan atau ambisi, melainkan melalui kerendahan hati dan cinta kasih. Putra-Nya mengajarkan dalam Injil, bahwa tempat kehormatan tidak kita rebut sendiri, melainkan Allah, Sang Tuan Rumah, yang menentukannya sesuai hati-Nya.
Melalui Kitab Sirakh, Allah meneguhkan, bahwa orang yang rendah hati akan berkenan kepada-Nya, sedangkan keangkuhan hanya membawa kejatuhan. Dalam Mazmur, kami mengenang belas kasih-Nya yang nyata dalam sejarah. Ia membebaskan orang tertindas, memberi makan orang lapar, jadi Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi yang lemah.
Dalam Kristus, kami melihat kepenuhan belas kasih-Nya. Ia merendahkan diri, mengambil tempat paling bawah, supaya dalam Dia, kami diangkat ke tempat tertinggi, menerima warisan sebagai anak-anak-Nya, ditebus oleh darah perjanjian yang mulia.
Ajarlah kami, ya Tuhan, untuk hidup seperti ini: melayani tanpa mencari balasan, memberi tanpa berharap imbalan, mengundang yang miskin dan terbuang, dengan iman, bahwa ganjaran sejati ada pada-Mu, di kebangkitan orang benar.
Setiap Ekaristi adalah tanda awal dari janji itu, saat kami mengecap liturgi Yerusalem Surgawi, bersama para Malaikat dan para Kudus, dan Yesus, Imam Agung kami, berseru: “Sahabat, naiklah lebih tinggi.”
“Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, Engkaulah Andalanku*. Angkatlah aku hanya ke tempat yang Engkau sediakan bagiku dalam kerahiman-Mu. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

