Makin pikiran ini terarah dan fokus untuk mencapai pendewasaan diri, kita kian memahami setiap langkah, jalan, dan keputusan-keputusan yang hendak diambil setiap hari.
Sebaliknya, jika kita tidak fokus, yang terjadi itu kebalik-balik. Mau contohnya?
- Sok Sibuk! Merasa diri jadi orang penting. Kita disibukkan dengan segala jabatan dan kegiatan, tapi yang terjadi kita tidak dapat menyelesaikan atau menghasilkan hal-hal secara maksimal.
- Terjebak oleh hobi! Merasa diri jadi orang kreatif. Disibukkan dengan hobi dan kesenangan yang memuaskan dirinya sendiri. Sehingga yang utama diabaikan. Jika diingatkan mudah tersinggung. Jika berbuat salah, dinasihati, ia marah dan mendiamkan kita. Jika diingatkan atau disarankan untuk tugas utamanya ia menolak dengan 1000 alasan.
- Menjadi kaku! Kekakuan itu sebenarnya untuk menutupi dirinya yang tidak mampu. Inilah seni pertahanan diri dari orang-orang yang kaku dan cenderung keras kepala. Menutup dirinya, sehingga orang menjadi takut dan segan terhadapnya. Hal itu yang dimaui dan diingini untuk menjaga jarak hubungan pertemanan.
- Tidak hangat dalam persaudaraan dan persahabatan! Buktinya, tidak nyaman atau tidak bisa berlama-lama berbincang dengannya. Yang menghalangi adalah perasaan tidak suka. Berhadapan dengan pribadi semacam ini, kita sulit menemukan persaudaraan/persahabatan sejati.
Sesungguhnya, orang yang hidup terarah dan fokus untuk mencapai pendewasaan diri itu banyak belajar. Ia itu pembelajar. Hidupnya dinamis dan lentur mengalir bahagia. Karena yang selalu dikejar olehnya adalah fokus kematangan tubuh, jiwa, dan roh. Ia bahagia, karena telah menemukan kebahagiaan itu dan menikmati hari-harinya penuh sukacita.
Di mana diutus (ditabur dan ditanam) ia akan memberikan terang kebahagiaan untuk sesama. Ia mudah beradaptasi dan mudah diterima oleh lingkungan pergaulannya. Yang pasti kebahagiaan itu akhirnya menjadi kebahagiaan bersama!
Mari kita rajut hidup ini dengan mengelola bakat dan talenta tang dianugerahi Tuhan. Kita fokus untuk melangkah dengan keputusan-keputusan yang dibuat setiap hari dengan target utama: hidup bahagia dengan sesama, sehingga Tuhan tersenyum melihat kita.
Ingat! Jangan berhenti belajar sebelum kita menemukan kebahagiaan. Jika seandainya, kita belum juga menemukannya, jangan menyerah. Karena masih ada hari esok nan indah.
Rm. Petrus Santoso SCJ

