Jalan yang dilalui oleh Tuhan Yesus adalah jalan keteladanan yang harus diikuti oleh para murid-Nya agar kita sampai ke tujuan dengan selamat.
Jalan-Nya itu: “Jalan Persahabatan, Pengampunan, dan Jalan Kekudusan” (Kesempurnaan). Di ujung sana kita akan disebut sebaga anak-anak Allah!
- Jalan Persahabatan!
Sebagai para murid-Nya, kita disebut sahabat-sahabat-Nya. Bukan lagi hamba, apalagi budak. Melainkan para sahabat Tuhan Yesus dengan kemerdekaan yang sejati. Tidak ada yang terpaksa atau tertekan mengikuti-Nya. Kita semua adalah sahabat sejati Tuhan Yesus. Dengan orang lain juga, kita harus bersahabat dengan baik. - Jalan Pengampunan!
Jalan yang sangat sulit. Tapi bisa dilalui oleh Tuhan Yesus. “Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu yang telah mereka perbuat,” ungkap-Nya.
Kita didorong untuk tetap mencintai, mendoakan, dan minta berkat dari mereka yang “mengkhianati, membenci, dan memusuhi” kita. Meski jalan ini sangat sulit, tapi harus dilalui. Jika tidak, ya, kita berhenti di situ. Hal itu lebih sulit, berbahaya, dan beresiko. Berarti pula, kita akan mempunyai banyak musuh. Meski tidak enak hidup mempunyai banyak musuh. Tapi hal itu harus dilalui! Yakinlah akan penolong yang membantu. Jangan bergulat sendiri. Banyak ‘malaikat penolong’ itu.
- Jalan Kekudusan (Kesempurnaan)!
Adalah akhir dari jalan yang harus dilalui. Coba, jika kita menoleh ke belakang. Luar biasa jalan yang sudah dilalui itu. Kita melewati perjuangan: jatuh bangun, bergumul, menahan sakit dan perih, ragu dan bimbang, cemas dan bahkan hilang kepercayaan.
Dalam bukunya, “God is bigger than our problems,” Bo Sanchez membantu kita, pembacanya untuk mengatasi rasa takut dan kekhawatiran itu dengan hidup berfokus pada Tuhan. Kita bersyukur, karena mampu ke luar dari lubang jarum atau melewati pintu yang sempit itu.
Sekarang makin jelas, jalan mana
saja yang harus dilalui. Kita melewati pintunya dulu, yakni Yesus. Sehingga akhirnya kita disebut sebagai anak-anak Allah.
Rm. Petrus Santoso SCJ

