Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Quo Vadis, Domine?”
Ke mana Engkau Pergi, Tuhan
(Santo Petrus)
…
Manusia sering Melarikan Diri
Konon, di saat hiruk pikuknya keadaan kota Roma, ketika dibakar oleh Kaisar Nero (54 – 68M), di lorong jalan Via de Apia, Petrus yang telah tua renta itu turut berlari demi menghindar dari kebrutalan Nero Claudius Caesar Augustus pun sempat bertatap wajah dengan Sang Guru, Yesus.
Di tengah jalan, di lorong Via de Apia, di saat berpapasan dengan Yesus, spontan Petrus pun bertanya, “Quo Vadis, Domine?” Dijawab oleh Yesus, “Eo Romam iterum crucifici!“
Manusia itu Makhluk yang Lemah
Sesungguhnya kisah ini mau mendeskripsikan, bahwa betapa rapuh dan remuknya kesetiaan manusia itu.
Seorang anak manusia ternyata dalam kondisi tertindas dan teraniaya akan sangat gampang untuk mengingkari sumpah kesetiaannya kepada seseorang.
Tulisan refleksi “Jalan Kesetiaan” adalah sebuah jalan sunyi yang setia menyimpan kisah-kisah nyata, tentang seberapa tulus kadar kesetiaan seorang anak manusia, khususnya di saat dia dihadang oleh tantangan hidup.
Sebuah jalan kesetiaan (loyality / fidelity) adalah sebuah jalan keabadian dan kesetiaan tiada tara yang mampu dipersembahkan oleh seseorang kepada apa atau pun siapa.
“Ke mana Engkau pergi, Tuhan?”
“Saya hendak ke kota Roma untuk disalibkan lagi!”
Lewat dialog jalanan ini, saya teringat akan sebuah adagium Latin, “Errare humanum est,” artinya kekeliruan adalah sifat khas manusia.
Inilah sebuah potret riil, bahwa sungguh, betapa rapuh dan tidak berdayanya manusia itu saat dia menerima tantangan hidup.
Sejatinya, bahwa tidak banyak orang yang setia bertahan untuk menerima sebuah tantangan berat. Apalagi jika tantangan itu menyangkut keselamatan jiwa raganya.
Seakalipun lewat kisah ini, bahwa akhirnya murid Yesus itu, Petrus bersedia untuk mati, bahkan dengan cara disalibkan terbalik. Artinya disalibkan dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. Karena dia tidak sudi untuk sama dengan Gurunya, Yesus Kristus.
Hidup ini sungguh merupakan sebuah jalan tantangan yang mau tidak mau, Anda atau saya akhirnya akan menerima sebuah kenyataan menang atau pun kalah.
Dalam konteks ini, menang atau kalah itu bukan sebagai aspek yang terpenting. Karena yang jadi sentral dalam tulisan ini ialah hal kesetiaan dalam menerima sebuah kenyataan yang paling pahit sekalipun (kalah jadi arang, menang jadi abu).
Sungguh, kesetiaan adalah sebuah sikap mulia.
Bukankah kesetiaan itu akan menghidupkan, sedangkan keingkaran itu akan mematikan?
…
Kediri, 13 Juli 2024

