Perceraian merupakan problem klasik dalam hidup berumah tangga. Tidak ada pasangan yang berpikir akan bercerai pada saat mereka mengucapkan janji perkawinan. Namun, dalam perjalanan hidup terkadang pasangan itu harus berhadapan dengan kenyataan pahit, bahwa mereka terpaksa bercerai.
Ketika Yesus harus menjawab, “Apakah diperbolehkan bercerai atau tidak?” la tidak menjawab secara langsung, tapi mengingatkan kembali pada rencana Allah saat awal penciptaan. la mengacu pada Kitab Kejadian 2: 23-24, bahwa Sang Pencipta menghendaki agar dua orang yang menikah itu jadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Yesus menegaskan kesetiaan dan kesatuan pasangan bagi mereka yang memilih jalan hidup berumah tangga.
Pada saat yang sama, la juga menegaskan kesetiaan bagi mereka yang dengan bebas merelakan hidup perkawinan demi Kerajaan Surga dengan hidup melajang (selibat). Baik perkawinan maupun hidup melajang adalah panggilan dari Tuhan. Hidup sebagai pasangan suami-istri atau sebagai lajang, sama-sama milik Sang Pencipta. Dia tetap memberikan kasih karunia kepada mereka yang berusaha mengikuti jalan kekudusan-Nya dalam kehidupan mereka.
Apakah kita masih setia mengikuti Kristus dan mengamalkan kasih karunia-Nya dalam panggilan hidup masing-masing?
“Tuhan Yesus, kuduskanlah hidup kami, entah berkeluarga maupun melajang agar kami dapat hidup sebagai pria dan wanita yang dikuduskan bagi-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

