“Ketika ditolak, Yesus memilih belas kasih. Ketika ditentang, Ia memilih damai. Dibenci, Ia memilih jalan salib. Maukah kita mengikuti-Nya?”
Melalui Nabi Zakharia, Allah menyingkapkan, ketika banyak bangsa datang mencari wajah-Nya, berkata: “Kami ingin pergi bersama kamu, sebab kami mendengar bahwa Allah menyertai kamu.”
Dalam diri Yesus, janji itu digenapi. Ia mengarahkan wajah-Nya ke Yerusalem untuk melaksanakan misi keselamatan-Nya itu bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kasih yang bahkan lebih kuat daripada maut.
Dalam perjalanan, Ia ditolak di Samaria. Yakobus dan Yohanes, yang mudah tersulut amarah, ingin menurunkan api dari langit untuk membinasakan. Tapi Yesus rendah hati dan penuh belas kasih, menolak balas dendam. Ia memilih damai, kesabaran, dan memilih berjalan terus.
Tuhan, betapa sering kami ingin membalas, ketika disakiti atau ditolak. Tapi Putra-Mu menunjukkan jalan yang lebih luhur: jalan salib, di mana keadilan bersinar sebagai kerahiman.
Pemazmur melagukan Sion, kota kudus-Mu, di mana segala bangsa berkumpul dan bernyanyi: “Semua mata airku ada di dalammu.” Di sana tidak seorang pun disingkirkan dan dibinasakan. Semua bangsa itu dipersatukan dalam kasih-Mu.
Tuhan, ajarlah kami hidup sebagai warga kota itu, di mana kerendahan hati adalah kekuatan, pengampunan adalah kemenangan, dan setiap luka disembuhkan dalam Kristus.
Yesus yang lemah lembut dan penuh belas kasih, ketika ditolak Engkau tetap berjalan, ketika ditentang Engkau memilih sabar, ketika dibenci Engkau memeluk salib. Berilah kami keberanian yang sama untuk mengikuti-Mu. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kebaikan; bukan dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati; bukan dengan amarah, melainkan dengan belas kasih.
Kami rindu bergegas datang kepada-Mu, Tuhan. Tariklah hati kami dekat dengan-Mu. Jadikan kami saksi sejati Kerajaan-Mu, hingga semua bangsa dapat berkata: “Sungguh, Allah menyertai kamu.” Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

