Red-Joss.com – Saya menghadiri pemberkatan nikah sepasang pengantin Jawa – Batak. Meriah dan banyak lagu dinyanyikan.
Pendetanya masih muda, khotbahnya yang diingat, ‘jangan jadi tukang sate’; membakar, mengipas, dan menebar aroma.
(Khotbahnya saya lanjutkan dalam refleksi pribadi). Hidup berkeluarga tidak sebatas menebar aroma tanpa mengecap rasa. Hidup berkeluarga adalah cita-cita bahagia berdua yang bukan mimpi tetapi nyata, lewat perjuangan suka dan duka.
Diakhir upacara, saya diminta memberi sambutan. Khotbah pendeta jangan jadi tukang sate harus ada jawabnya. Kalau tidak boleh jadi tukang sate, seharusnya jadi apa? Untuk dapat hidup bahagia, tidak cukup hanya tidak ini atau itu, jangan ini atau itu. Sebuah pemikiran itu harus utuh.
Yang terpikir dalam benak saya, jika tidak jadi tukang sate, maka ‘jadilah tukang roti’.
R – Roh harus tulus dan suci
O – Otak harus jernih dan sehat
T – Tuhan jadikan andalan
Apa ‘I’ nya?
Jika keluarga muda itu menjalani ke “3” hal pertama dengan tekun dan baik, …
I – Insya Allah cita-cita hidup bahagia dapat tercapai. Sebab bahtera hidup mereka dilandaskan pada Roh yang tulus tanpa tipuan, diperkuat dengan Otak yang jernih dan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah mereka.
Selamat melayari bahtera ini dengan selalu menggenggam roti Ilahi.
…
Jlitheng

