“Bersyukur itu tidak sekadar ucapan, tapi ungkapan nyata untuk menanggapi belas kasih Tuhan.” -Mas Redjo
Saya harus bertanggung jawab atas hidup ini. Caranya, saya harus memperbarui pola pikir saya agar hidup ini tidak membosankan dan monoton, tapi berguna bagi sesama dan bermakna.
Berpikir seperti kebanyakan orang, setelah pensiun enaknya menikmati hidup sambil momong cucu itu juga harus dihargai. Ternyata saya tidak bisa melakukan, karena mobilitas saya sebagai pedagang itu cukup tinggi.
Jika belanja barang untuk dijual lagi saya mencari harga yang murah. Tapi hal ini tidak saya lakukan, jika belanja di warung, karena mereka mencari untung itu sekadar untuk menyambung hidup.
Adalah suatu kisah menarik yang bisa saya pelajari dari pelanggan pabrik kerupuk, ketika Bos menjual kepada pedagang tunanetra yang harganya lebih murah dibandingkan ke agen besar.
Alasan Bos kerupuk, karena ia ingin memanusiawikan tunanetra itu. Tujuannya memotivasi mereka agar mempunyai semangat juang dan optimis dalam menjalani hidup ini.
Belajar dari Bos kerupuk, saya jadi makin getol menyambangi industri rumahan, untuk berbagi motivasi, menyeringkan cara mengelola dan pengembangan usaha.
Intens membangun hubungan baik dengan pelanggan, kami bersinergi
jadi makin akrab, dekat, dan usaha pun kian mantap.
Dengan aktivitas yang terarah baik dan positif, hidup saya dipenuhi semangat optimis dalam mengisi hari agar jadi saluran berkat Tuhan.
Hidup ini pilihan. Ketika kita berani menanggapi belas kasih Tuhan untuk melakukan hal-hal baik itu anugerah-Nya.
Mas Redjo

