“Setiap orang memiliki alasan untuk memaafkan atau tidak memaafkan orang dalam hidupnya.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Mudah melupakan, mudah memaafkan itulah mutiara dalam diri orang Kamoro, salah satu dari 7 suku asli Papua. Pagi dimarahi, beberapa menit kemudian sudah menegur dan itu biasa. Kita yang masih dongkol, ee… mereka sudah melupakan dan memaafkan.
Bicara soal pengampunan, saya teringat akan satu kisah pemburu monyet di Afrika. Para pemburu monyet di sana menggunakan teknik sederhana nan unik, yaitu hanya menggunakan toples dan kacang. Pemburu itu menggunakan toples berleher panjang, lalu memasukan kacang itu ke dalam toples.
Toples yang sudah diisi kacang itu, lalu ditanam di tanah atau diikat pada pohon tanpa ditutup. Biasanya mereka memasang jebakan sore hari. Monyet yang tertarik pada harumnya kacang akan memasukan tangan kedalam toples, menggenggam erat kacang itu. Karena mulut toples yang kecil, sekeras apa pun monyet itu berusaha, ia tidak bakal bisa melepaskan tangannya.
Pagi harinya para pemburu itu tinggal menangkap monyet itu tanpa mengalami cedera. Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi tanpa kita sadari sebenarnya kita sedang mentertawakan diri kita sendiri.
Tanpa disadari, kita kadang seperti moyet itu, menggenggam erat setiap masalah yang ada. Bahkan kadang kita menyimpan segala dendam, marah, benci, dan iri hati tanpa mau melepaskanya.
Semakin berusaha untuk menarik tanpa mau melepaskan, maka kita kian terluka. Tanpa disadari pula, kita sering bertindak bodoh dengan selalu membawa kemana pun toples masalah itu. Dengan beban berat itu kita menjalani hidup. Sehingga tidak aneh, jika kita mudah marah dan kurang bahagia.
Semoga hari ini kita sadar dan mau melepaskan toples masalah itu. Kita belajar dari orang Kamoro yang mudah melupakan dan memaafkan. Hidup yang berat itu diubah jadi berkat. Huruf K yang di tengah itu ialah Kristus.
Hidup bahagia bersama Kristus.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

