Setiap tahun, hampir semua majalah dan koran terkenal dengan reputasi tinggi memilih seorang tokoh jadi “man/woman of the year.” Yang dipilih biasanya tokoh terkenal dan memiliki keunggulan luar biasa dalam bidang tertentu. Dia layak untuk jadi tokoh dan teladan. Dalam konteks pemilihan tahunan seperti ini, sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, seorang tokoh terpilih dua kali, apalagi sampai berkali-kali. Seseorang hanya terpilih satu kali untuk satu tahun tertentu. Dari tahun ke tahun selalu muncul tokoh baru.
Injil berbicara tentang Allah yang jadi model kemurahan hati. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Allah adalah wajah belas kasih dan murah hati yang paling sempurna. Jadi murah hati seperti Bapa adalah panggilan luhur yang melampaui sekadar berbuat baik. Ini adalah cara hidup yang mencerminkan hati Allah, yaitu penuh kasih, tidak cepat menghakimi, dan selalu terbuka untuk mengampuni.
Murah hati seperti Bapa itu bukan ajakan yang ringan. Lebih mudah bagi kita untuk menilai dan memberi label pada sesama daripada memahami dan mengampuni.
Dalam relasi dengan sesama, kemurahan hati adalah benang emas yang menjahit luka, mempererat persaudaraan, dan membangun jembatan penghubung. Murah hati seperti Bapa berarti menerima orang lain apa adanya, sabar dalam menghadapi kekurangan mereka, dan memberi bukan karena pantas, melainkan karena kita sendiri telah menerima anugerah yang tidak ternilai. Allah, Bapa kita adalah model, teladan abadi kemurahan hati.
“Ya, Bapa Yang Murah Hati, ajari dan mampukanlah kami untuk bermurah hati seperti Engkau. Amin.”
Ziarah Batin

