Secara umum kita memahami, kredibel itu berarti dapat dipercayai. Ini kaitannya dengan manusia atau yang impersonal seperti lembaga, kebijaksanaan, keputusan, pilihan, dan keyakinan. Aspek kredibilitas itu selalu berkaitan dengan kebajikan yang diperlukan, jika kita mempertanggungjawabkan dan meyakinkan orang lain tentang yang dikatakan dan diperbuat. Hasil yang diinginkan ialah, supaya kita atau sesuatu itu dapat dipercayai.
Ciri orang yang kredibel itu seperti apa? Tuhan Yesus mengajarkan kita satu ciri mendasar kebajikan kredibilitas. Ia mengambil contoh pribadi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka pintar berbicara dan tampak meyakinkan dengan pikiran dan argumentasi. Tapi salahnya ialah mereka tidak melakukan yang dikatakan. Kredibilitas itu sangat menuntut supaya ada kesesuaian yang dikatakan atau dibicarakan dengan yang diperbuat. Kata dan perbuatan sejalan. Teori diungkapkan di dalam praktik.
Kredibilitas dapat berdiri tegak dan berguna yang sesungguhnya, kalau kedua kakinya berfungsi, yaitu perkataan dan tindakan. Mereka yang dikritik Yesus itu hanya berdiri dengan satu kaki, yaitu perkataan. Perbuatan mereka nol. Jadi mereka itu orang pincang. Nasihat Yesus ialah, dengarkan dan ikuti saja yang mereka katakan, karena berisi nasihat dan kebajikan. Tapi jangan pernah mengikuti perbuatan mereka. Kata dan pikiran atau konsep itu lebih mudah dibuat, karena tidak terlalu memerlukan pengorbanan. Khususnya, ketika tujuannya ialah untuk menarik hati, mempengaruhi, dan menampilkan diri, kata-kata bisa dibuat sedemikian teratur, indah didengar, dan seolah-olah bertenaga untuk menggerakkan. Namun ini tetap saja masih belum lengkap. Ia masih pincang.
Perbuatan atau tindakan yang mempunyai pengaruh moral, berisi iman, dan bernilai kemanusiaan memiliki mutu kredibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan perbuatan biasa seperti berjalan dan makan atau minum. Nabi Yesaya menegaskan tentang perbuatan berwujud keadilan dan berbela rasa. Jika orang hanya berbicara, berteori, berjanji, dan berdiskusi tentang menciptakan keadilan dan pentingnya berbela rasa, lalu tanpa berbuat adil dan melayani secara nyata, kredibilitas iman dan moralnya layak dipertanyakan. Mereka mungkin merasa sangat yakin untuk berbicara dan menjelaskan itu, tapi mereka sedang merendahkan kualitasnya sebagai manusia, karena tidak kredibel.
Ajakan renungan ini untuk jadi kredibel, itu maksudnya supaya orang-orang yang memiliki tanggung jawab atas orang lain yang diajari, dibina, dan didampingi, menjadikan kredibilitas itu sebuah kesakralan yang harus dihidupi.
“Ya, Tuhan Yesus, ajarkanlah kami untuk jadi orang yang benar dalam kata dan perbuatan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

