Oleh : Jlitheng
| Red-Joss.com | Om, niat saya sih bukan sebagai dewan yang berkantor di pusat cukup sebagai ‘Ketua Lingkungan’ saja. Selain DPH itu, apalagi yang harus saya miliki?
Nak, niatmu itu realistis. Benar banget, bukan apa dan di mana, tapi bagaimana kau jalani niatmu itu. Maka, selain DPH, harus ada API. Sehingga lengkapnya jadi DPH – API:
A. Arah. Arah niatmu harus jelas, agar semua umat di lingkungan dapat saling mendengarkan dan berjalan bersama-sama sebagai gereja yang satu.
Kalau umat sudah mampu untuk saling mendengarkan, itu artinya mampu juga mendengarkan suara hati umat yang tak terucap.
Selama ini suara umat nyaris tak terdengar, sebab gereja lebih berbicara dan kurang mendengarkan suara umat.
P. Pijakan. Dalam melayani pijakanmu harus jelas. Suara umat harus didengarkan. “Vox populi vox Dei.” Paradigma yang masih hidup sampai kini Dewan saja yang punya hak berbicara, umat ‘nderek mawon’.
Sesungguhnya, Gereja yang mendengarkan adalah satu ‘conditio sine qua non’. Artinya, jika gereja tidak bisa mendengarkan umat, akan ditinggalkan. Ingat itu!
I.Inspirasi. Hidupmu harus menjadi inspirasi atau pelita bagi umat. Syarat untuk bisa berjalan bersama, adalah ketika dewan mau dan bisa mendengarkan umat lebih dulu. Jika bisa kau lakukan, maka dewan dan juga umat akan mampu menjadi “the voice of voiceless”. Suara mereka yang tak terdengar.
Contoh. Ketika wilayahmu agak beku alias tidak aktif, maka sebagai Kaling kamu dapat menjadi inspirasi atau pelita untuk membantu. Misalnya dengan mendidik anak-anak sebagai padus di gereja. Itu ciamik sekali, namun yang penting berjalan bersama alias guyup sebagai Tubuh Kristus.
Yes, betul sekali Om. Mimpiku seperti itu. Doakan ya, Om dan bimbing aku dengan ‘feedback’nya.
Jadilah gereja yang mendengarkan.
Jlitheng

