| Red-Joss.com | Refleksi sederhana Sabda Tuhan : “Biarlah Anak-anak ini datang kepada-Ku.”
Baptisan anak adalah baptisan yang diberikan pada bayi atau anak kecil yang lahir dalam keluarga Katolik. Dalam Perjanjian Baru dapat menemukan beberapa bagian yang menyiratkan bahwa sudah ada baptisan yang dilayankan pada anak. Misalnya, dalam Kisah Para Rasul 16: 15 dan 18: 8 dikatakan bahwa “seisi rumah dibaptis.”
Seperti yang biasa terjadi, suasana baptis anak, dengan jumlah banyak, tidak bisa dijamin selalu khidmat. Pengertian khidmat tidak lagi ditengarai dengan selalu tertib, hening, sunyi, pemimpin ibadatnya tepat waktu. Suara tangis bayi dan anak kecil yang nggembret-gembret minta pulang akan selalu ada. Ditambah lagi dengan banyaknya reminder yang tidak perlu sebab hanya menjadi seperti angin yang berlalu.
Sampai ada yang bertanya, “apakah baptis bayi adalah perayaan sakramen?”
Jawabku: “Ya, iyalah. Bagi umat Katolik, dalam hal ini kedua orangtua, wali baptis dan ada juga opa-omanya, baptisan bayi itu sungguh sakramen, perayaan iman mereka, maka bayi atau anak kecilnya disatukan melalui peristiwa baptis.”
Pertanyaannya nyambung: “Lha mengapa pembawaan upacaranya bak tertinggal sepur? Ada bagian penting yang dilompati, seakan agar tugas, ya tugas,… bukan perayaan, cepat selesai.”
Jawab saya: “Iman dan niat baik keluarga yang dibaptis untuk setia, serta darma bakti tak kenal lelah dari para pewarta, panitia, petugas liturgi, akan menyempurnakan yang kurang atau tidak pas.”
Mereka telah menjalankan Sabda Tuhan: “Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku.”
Begitulah gambar nyata dari kehidupan kita sebagai umat Allah. Sudah pasti dapat terjadi hal-hal yang tidak sesuai harapan. Maka setiap orang mesti ambil peran, sebisanya, untuk melengkapi.
Salam sehat dan melalui keterlibatan nyata kita berbagi cahaya.
…
Jlitheng

