“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga (Mat 5: 16).
Yesus mengatakan, bahwa kita adalah terang dunia. Tapi di perikop lain, Yesus mengatakan, “Akulah terang dunia” (bdk. Yoh 8: 12). Apakah kedua hal ini bertentangan? Tentu tidak. Seperti bulan yang mendapatkan terangnya dari matahari, demikian juga kita jadi terang dunia, karena kita mengambil bagian dari terang Kristus itu sendiri. Terlepas dari Kristus, kita hanya akan berada dalam kegelapan. Dengan demikian, setiap orang yang bersatu dengan Kristus dalam rahmat pembaptisan secara otomatis jadi terang dunia. Tapi yang jadi persoalannya ialah apakah kita sudah hidup layaknya terang dunia?
Jadi terang dunia berarti kita harus mencerminkan sikap Kristus, yakni mengasihi. Mengasihi Tuhan dan sesama harus dilakukan secara total, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus, yakni mengasihi sampai wafat di salib.
Dengan mengasihi, kita berusaha untuk membawa perdamaian dan sukacita agar makin banyak orang ke dalam pelukan Yesus. Jadi terang dunia merupakan kodrat kita sebagai seorang Kristiani, sekaligus panggilan kita untuk senantiasa memancarkan terang kepada sesama kita.
Sr. M. Odilia, P. Karm
Selasa, 10 Juni 2025
2Kor 1: 18-22 Mzm 119: 129-133.135 Mat 5:13-16
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

