Di dalam keluarga, orangtua sangat mengharapkan supaya anak mencapai tingkat kemajuan sesuai standar yang diinginkannya. Jika Bapak atau Ibu menargetkan nilai 10 dan anaknya dapat mencapainya, atau bahkan melampaui harapan itu, tujuan orangtua tercapai. Jadi orangtua yang sempurna itu ingin supaya anak-anaknya sempurna seperti mereka.
Namun tidak semua keluarga mengalami yang ideal seperti ini. Ada anak-anak yang tidak dapat memenuhi standar orangtua. Dialog, kompromi, dan saling terbuka satu sama lain memang perlu dimungkinkan, supaya hubungan baik dan hidup bersama tetap terpelihara dalam cinta kasih. Ketika firman Yesus Kristus yang meminta kita untuk jadi sempurna seperti Bapa yang sempurna itu agar jadi perhatian kita di dalam masa Prapaskah ini. Keadaan kita sesungguhnya ialah sama seperti anak-anak yang belum memenuhi standar dari orangtua tadi.
Masa Prapaskah memang penuh dengan upaya dan perhitungan supaya kita mampu mewujudkan yang diinginkan Tuhan dan Gereja. Salah satu yang terpenting ialah tentang perbuatan kasih. Ketika kita mengasihi saudara atau teman, perbuatan ini digolongkan sebagai cinta kasih yang normal. Di dalam keluarga dan sekolah, seorang anak dianggap baik dan tulus, kalau ia mengasihi saudara dan temannya. Di antara para tetangga dan anggota masyarakat, perbuatan kasih selalu didulukan, dan ini semua menjadikan kita sebagai sesama atau tetangga yang baik.
Yesus ingin mengajarkan lebih dari sekadar normal dan baik ini. Meski ini jadi suatu ajaran sepanjang waktu, tapi di masa Prapaskah ini kiranya jadi sebuah disiplin dan penitensi, yaitu ketika kita mengasihi, mendoakan, menolong, dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. Mereka yang iri, marah, dan membenci kita. Ini baru namanya sebuah tindakan kasih yang besar, tinggi, dan menaikkan standar kita sebagai pengikut Kristus yang baik. Melalui perbuatan baik yang biasa dan ditambah tindakan kasih terhadap para musuh kita, Yesus memberikan kita harga yang sangat tinggi, yaitu sempurna seperti Bapa yang sempurna.
Ajaran ini jauh sebelumnya telah ditegaskan Musa kepada bangsa Israel di seberang Sungai Yordan, bahwa janji Allah sungguh sangat jelas bagi mereka. Setiap orang dan seluruh bangsa jadi umat yang kudus bagi Allah yang adalah Tuhan semesta alam.
Kesempurnaan seperti Bapa yang disampaikan oleh Musa meminta umat Allah untuk menaati perintah-perintah-Nya dengan segenap hati dan segenap jiwa. Ajaran Musa mengikat dan menuntut, namun kemudian disempurnakan oleh Yesus yang memberikan sendiri teladan kesempurnaan itu. Kita tinggal menaati dan setia kepada-Nya.
“Ya, Allah yang Mahabaik, buatlah kami hidup dalam kepenuhan cinta kasih-Mu dan membuahkan cinta kasih itu di dalam pelayanan dan pengorbanan kepada sesama kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

