Luk 3: 15-16. 21-22
“Satu-satunya syarat untuk jadi putra-putri Allah yang terkasih adalah harus berjuang jadi seperti Allah dalam kekudusan-Nya.”
Lukas, penulis Injil mencatat: “…ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”(ayat 21b-22 )
Karena itu pada Pesta Pembaptisan Tuhan ini, pantaslah kita merenungkan beberapa poin penting ini:
- 1) Tanda solidaritas Yesus kepada kita: Dengan menerima baptisan di sungai Yordan, Yesus menunjukkan rasa solider dengan kita manusia berdosa. Ia jadi seperti kita agar kita berjuang untuk jadi seperti Diri-Nya dalam kekudusan;
- 2) Yesus menguduskan air: Kristus menguduskan baptisan, air sebagai materi baptisan untuk menguduskan manusia;
- 3) Kita pun bisa menjadi putra-putri Allah: Baptisan yang kita terima membersihkan kita dari dosa asal serta menjadikan kita putra-putri Allah seperti Yesus;
- 4) Kesediaan untuk memikul salib: Dengan menerima baptisan, maka kita mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus di dunia ini.
Akhirnya, bila kita mampu menguduskan diri hidup di dunia ini, kita pun akan mendengar suara lembut Allah yang menyapa di akhir hidup kita: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
…
Monsignor RD Inno Ngutra

