| Red-Joss.com | Namanya Djoko. Adrianus Djoko lengkapnya. Tetap aktif melayani, walau usia telah senja. Konon murid saya, ketika SMA (Walau sejak itu belum pernah berjumpa, tapi berkat hapé bisa terhubung sampai kini).
Demi keluarga masih juga bekerja, adakala dapat shift malam.
Mas Adrianus dilahirkan di desa Kramasan. Dekat Kertapati, Palembang. “Saya ingat, waktu kecil, usia 6/7 tahun, pernah tenggelam hanyut di sungai Musi. Terjadi pada tahun 71. Tapi saya selamat, karena tersangkut ke dalam jala ikan orang Palembang asli. Saya percaya, Tuhan berkehendak, maka saya selamat.”
Lanjutnya: “Ceritanya kami hidup di rumah bedeng karyawan pabrik karet, dekat sungai Musi. Saya lihat anak Palembang asli mandi di sungai Musi hanya tampak lehernya dan bergembira. Lalu saya ikut ‘nyemplung’, ternyata tenggelam minum air dan hanyut. Katanya sampai 1 km jauhnya. Saya sadar lagi, setelah berada di rumah sakit. Waktu itu Gereja kami gereja Siloam, sebelah gereja Katolik Talang Semut.
Sejak itu, tumbuh dalam kesadaran saya, bahwa hidup adalah berkat Tuhan yang paling tinggi nilainya bagi manusia. Berkat itu harus saya rawat dan membantu merawat sesama.
Dengan jala Tuhan telah menyelamatkan saya maka saya ingin jadi jala (alat Tuhan) untuk membantu sesama, sebisa saya.
Jadi penjala manusia berarti berpartisipasi dalam misi Allah dengan membagikan seluruh pesan Yesus, baik tawaran keselamatan-Nya maupun kehendak-Nya. Sama seperti seorang nelayan yang pergi setiap hari untuk menangkap ikan, kita harus menjalani setiap hari dengan kerinduan rohani untuk melihat, bagaimana Allah bekerja di sekitar kita.
Hidup ini berkat Tuhan untuk dijadikan berkat bagi sesama.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

