“Maaf! Jika saya tidak tersenyum itu jangan diartikan sedang sakit gigi atau, karena senyuman itu mahal harganya. Saya prihatin, bahkan bersedih hati, karena para orangtua kehilangan kepedulian pada anak-anaknya sendiri dan para pemimpin membutakan hati dengan penderitaan rakyatnya akibat ketamakan kroninya yang merusak alam.
Memiliki komitmen untuk tidak tersenyum, saya lalu memplester mulut sendiri. Jika berbincang, saya menggunakan bahasa isyarat atau lewat tulisan. Saya tidak peduli, lawan bicara itu melihat saya jadi aneh dan konyol.
Jika teman mengatakan, saya ini gila atau kesambet jin, hal itu tidak saya sanggah dan tanggapi. Bagi saya yang terpenting adalah, semangat kepedulian pada keluarga itu harus dihidupi agar anak tidak kehilangan kepedulian dan keempatian untuk ‘cepat tanggap’ membantu warga di sekitarnya.
Tidak hanya tersenyum, saya juga tidak mau tertawa melihat derita mereka. Apalagi kita melakukan hal itu sekadar untuk menyenangkan hati orang lain.
Mohon maaf! Saya tidak penganut paham ABS, alias asal Bos senang demi pencitraan, keselamatan, dan mencari keuntungan pribadi.
“Jauhi omon-omon, karena hidup ini untaian realita,” adalah filosofi yang harus dihidupi di dalam keluarga, yakni berpikir dulu sebelum bicara; seia sekata dalam perkataan dan perbuatan; serta selalu bercermin diri agar kita tidak dipenjara dan lalu diadili si Jahat!
Jujur, mengubah karakter pemimpin yang acakadut itu teramat sulit, tapi semangat perubahan itu dapat dimulai dari dalam keluarga kita.
Ketimbang saya juga larut emosi, protes, dan konfrontasi di sosmed, lalu saling membuka aib, lebih bijak itu mengendalikan diri, bersikap tenang, dan berpikir jernih.
Saya sadar sesadarnya untuk tidak meneruskan hal-hal buruk dan negatif itu ke orang lain. Saya tidak mau meracuni diri ini dan orang lain. Apalagi lalu timbul konflik dan permusuhan… Sungguh betapa jahat dan berdosanya orang yang menciptakan itu!
Jangan menghujat dan menyesali keadaan yang acakadut itu. Tapi lebih bijak, jika kita berusaha dan berjuang untuk memperbaikinya. Dimulai dari keluarga sendiri, lalu menular dan menggurita jadi semangat perubahan nan dahsyat!
Alangkah indah dan bahagianya hati ini, jika kita jadi teman sekerja Allah dalam mengelola dan memelihara alam ini!
Gusti nyuwun berkat!
Mas Redjo

