“Dunia boleh berubah, tapi jangan pernah menyerah.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | “Itu sudah,” ungkapan ini sering ke luar dari mulut masyarakat Papua, khususnya 7 Suku di Kab. Mimika, Papua. Menarik mengamati ungkapan ini. Ungkapan ini memuat tiga makna. Makna untuk melihat realita. Arti untuk menerima dan mengamini. Maksud untuk mengungkapkan keputusasaan.
Pertama: berhadapan dengan fakta dan realita, akal mencerna dan logika menilai. Bicara soal fakta dan realita, jelas bantahan itu tidak berguna. Menerima adalah pilihan. Tidak mungkin kita bisa mengendalikan semua itu termasuk fakta. Pilihan menerima yang tidak mungkin dirubah, menerima yang tak dapat kita rubah, akan meningkatkan kualitas kedewasaan respon kita. Itu sudah, mengajari kita hukum menerima, ‘low acceptance’.
Kedua: mengamini atau menyetujui. Amin, kata paling tua yang sulit diterjemahkan dalam bahasa apa pun. Dalam doa amin saja tidak cukup. Begitu juga dalam hidup, setuju dan iya saja tidak cukup. Butuh yang namanya ungkapan, usaha dan tindakan. “Itu sudah,” mengajari kita untuk beradaptasi dalam segala situasi. Mencari cara untuk berusaha. Aksi dari sesuatu yang dipilih dan diamini. Inilah ‘low adaptance’, hukum beradaptasi.
Ketiga: ungkapan keputusasaan. Saat impian tak sesuai realita, saat rencana tak menjadi nyata, saat kegagalan mendera. Putus asa dan sia-sia adalah realita. Ungkapan “itu sudah” kadang menjadi simbol keputusasaan. Ingat hidup belum berhenti saat datang kegagalan. Putus asa itu bukan pilihan. Hidup itu terus berlanjut, meski banyak hal sulit dicerna logika. Ingat selalu ada jalan bagi yang mau percaya dan berusaha.
Sayang ungkapan afirmatif “itu sudah” sering dimaknai sebagai sebuah keputusasaan. Putus asa, karena tak tau mau buat apalagi. Putus asa, karena seringnya impian tak sesuai realita. Putus asa, karena kegagalan menimpa.
Hidup itu memang tidak mudah dan susah, tapi jangan pernah menyerah. Angkat tangan, maka Tuhan akan turun tangan menolong hidup kita.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

