Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Cintailah Tuhan Allahmu
dengan segenap hatimu, dan
cintailah sesamamu
manusia seperti
dirimu sendiri.”
(Amanat Agung Yesus Kristus)
Di Atas Batu Padas
Seperti sebuah rumah yang didirikan di atas pondasi batu padas nan kokoh, sehingga kuat menghadapi aneka goncangan bencana. Nah, demikian pula orang yang hidup dan bersandar pada sebuah keyakinan yang teguh.
Dalam konteks ini, mau ditekankan, bahwa hidup kita ini teguh dan kokoh kuat, jika kita berdiri di atas dasar keyakinan yang benar.
Kisah dalam Buddhisme
Dalai Lama ke-14 saat ditanya,
“Apakah inti ajaran Buddha?”
Jawabnya, “Berusahalah sebisa mungkin jadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain!”
“Bagaimana jikalau seseorang tidak bisa jadi manusia yang bermanfaat?”
“Berusahalah untuk tidak merugikan manusia yang lain.”
“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Seburuk-buruknya manusia adalah manusia yang bermudarat bagi manusia yang lain.”
(Hamdan Hamedan)
Berguru pada Saru
Jadi Pribadi Bermanfaat yang Tidak Merugikan Sesama
Bagaimana caranya agar Anda dapat jadi pribadi yang bermanfaat yang tidak merugikan sesama? Ya, hiduplah dalam kesadaran penuh dan berbuatlah kebaikan. Jika hal itu yang Anda lakukan, maka Anda tidak merugikan sesamamu.
Aneka Godaan Hidup
Sungguh, sudah diyakini pula, bahwa pada mulanya manusia itu adalah makhluk yang berkehendak baik. Itulah tabiat bawaannya sejak ia diciptakan. Ia telah membawa rahmat berlimpah dan kebaikan sejati.
Namun demikian, sejak adanya godaan Iblis laknat itu, sebagai tragedi hidup yang sanggup memorakporandakan ketentraman hidup.
Kelak timbullah aneka bala bencana: krisis kesetiaan, ingkar janji setia, dan sikap keras tengkuk.
Demi sekadar untuk menghibur diri, maka manusia bersandar pada prinsip, bahwa “manusia itu memang makhluk yang lemah, karena ia diciptakan dari debu tanah” (errare humanum est).
Dampaknya hingga Kini
Kita semua yang adalah keturunan Hawa, ternyata masih setia memikul dampak dari hukuman secara rohani untuk seumur hidup.
Bukankah, bahwa semua permasalahan hidup ini, justru bersumber dari dalam hati manusia yang telah meninggalkan inti ajaran dari Tuhan Sang Sumber Hidup kita?
Konklusi
“Jadilah manusia yang bermanfaat, karena Anda tidak merugikan sesama!”
Kediri, 18 April 2025

