Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Hari ini, Sang Guru Agung kita, telah menunjukkan sebuah suri teladan kasih. Kasih sejati nan agung. Kasih Sang Ilahi.
“Tak ada kasih yang paling agung, selain kasih yang menyerahkan nyawa bagi sesamanya.” Inilah kasih ‘agapeโ.
Sang Guru Agung nan Abadi itu, telah rela menitipkan dan bahkan mewariskan sebuah tindakan kasih yang paling agung untuk kita.
Di malam pisah kenang bernuansa kasih, yang disimbolkan dengan hadirnya sebuah “meja perjamuan” terakhir.
Di sana, hadir Sang Guru Agung bersama para pengikut-Nya. Mereka pun mengitari sebuah meja perjamuan kasih, atas nama kasih, demi perbuatan kasih abadi.
Sang Guru Agung berwajah Mahakasih itu, ternyata telah rela mewariskan ‘sebuah hukum kasihโ, bagi kita para pengikut-Nya.
Dia, telah rela serta ikhlas melakukan sebuah tindakan kasih abadi, “membasuh kaki para murid-Nya.” Sebuah tindakan unik serta aneh yang telah mencungkirbalikkan tradisi ‘tuan dan hambaโ.
Bahkan, sebelum itu, rela ditanggalkan-Nya jubah keagungan, jubah kuasa, dan jubah keilahian-Nya. Dia pun rela untuk ‘membungkuk dan menunduk’ ‘mencuci’ kaki para pria pengikut-Nya.
Saudaraku, DIA tidak hanya memberikan sebuah teladan kasih, namun, bahkan juga, rela membelah serta membagi kepada kita.
“Inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku, ambil, santap dan minumlah!”
Saudaraku, misteri kasih teragung ini, hendaklah kita kenang serta rayakan tidak hanya berdasarkan perintah kalender liturgi, namun, hendaknya, justru menjadi tindakan serta perbuatan harian kita.
“Lakukanlah ini, sebagai kenangan akan Daku,” pinta Sang Guru Agung.
Apa yang perlu dan terus harus kita lakukan para pengikut-Nya ini?
Apa yang harus kita lakukan, ketika tetangga kita menderita kehausan dan kelaparan. Ketika gempa bumi dasyat mendera, di kala gairah gelora ganas tsunami terjang menerjang, atau pun, saat masyarakat dihadang ganas banjir bandang, serta erupsi muntahan lahar gunung berapi?
Willibrordus S. Rendra, sang sastrawan dan budayawan kita pernah berujar, “Apa yang perlu masyarakat dan bangsa ini banggakan, ketika tetangga kita, justru rela memakan bangkai kucing demi mengisi perut laparnya?”
Inilah, sebuah statemen ‘reflektif retoris’ yang sungguh bermakna serta menggugah hati kita di hari penuh kasih ini.
Marilah kita, kembali berhimpun, mengitari ‘meja perjamuan’ dunia yang penuh dagelan serta gonjang-ganjing.
Meja perjamuan, kedengkian, iri hati, serta cemburu buta.
Meja perjamuan, kecemasan serta derita berkepanjangan.
Meja perjamuan, sikap intoleran serta sebaran berita serba hoaks.
Meja perjamuan saling menjegal, karena penuh kemunafikan di arena pengadilan kita.
Saudaraku, jika demikian, sesungguhnya, kita ini tidak pernah melakukan, apa yang telah diminta serta diwariskan-Nya.
Jika demikian, ‘sayang, sejuta sayang!’
…
Kediri, Kamis Putih,ย 6ย Aprilย 2023
…

