| Red-Joss.com | Para pejabat publik sebentar lagi pergi dan diganti baru. Di awal banyak janji ditebar, di akhir banyak janji tersebar tak ditepati, membuat rakyat jadi ‘jinja‘.
Ingkar Janji berakhir ‘Jinja’
Apa itu jinja?
Jinja sering dimengerti sebagai takut. Tiap kali melihat ular, si A jinja. Arti jinja itu lebih dari takut, artinya adalah kapok nggak mau lagi dèh; jinja, … lantas lari menghindar. Arti jinja yang tertinggi adalah trauma, ‘wis emoh tenan’, sampai berakibat pada fisik. Apalagi sampai ketemu, dengar suaranya saja sudah mrinding, mual.
TéTéÈs, teman sekolah, mengurai makna jinja secara pas dalam bentuk cerita.
Ada seorang Lurah. Ia telah bertahun-tahun menjabat sebagai Lurah. Di tahun-tahun awal beliau menjabat, masyarakat senang karena Pak Lurah ini bekerja keras membangun desa, banyak terobosan, dan sangat mengenal warganya, karena Pak Lurah ini suka mendatangi tempat umum mana pun: ya ke pasar, puskesmas, kondangan, melayat, dan sebagainya. “Wis ta, pokoke Lurahe joz gandhos.”
Sayang, akhir-akhir ini citra joz gandhos Lurahé merosot, karena sejumlah pihak ada yang kecewa, bahkan ‘jinja’ terhadap beliau. Mengapa? Ternyata, banyak janji tinggal janji tidak terpenuhi.
Di sana-sini ada saja warga masyarakat yang mengadu dan mengaku kecewa: “Jebule, Pak Lurah mung api rowang.” Tampaknya suka menolong, tapi ternyata tidak; jebule mung api tambuh, tampak tahu ternyata tidak dan selalu mengatakan: “Jangan tanya saya…”
Pertanyaannya, “mengapa selalu saja ada yang jinja?”
Jawaban yang terucap, antara lain, (1) Pak Lurah tuh suka ‘makakake wong liya’, jadikan pihak lain sebagai umpan atau bemper.
Sekdes selalu diminta membereskan semua urusan;
Kasi Kesra disuruh tanggung jawab dan nomboki kalau ada yang tidak beres pada kegiatan pembagian beras untuk warga. Ada juga jawaban lain,
(2) Saya diminta jungkir-jempalik, pontang-panting berusaha agar kemenakannya lolos nyaleg. Setelah benar-benar lolos, “Saya diperintah mengorbitkan Budhenya yang mau ikut pemilihan ratu kebaya se Kecamatan. ‘Wegah aku, kapok!’
Jinja
Nah, … seperti itulah gambaran jinja. Ada dua makna jinja :
Yang pertama, kapok, emoh mara utawa ketemu maneh. Orang kapok itu adalah orang yang ‘wis ora wani maneh’, tidak berani untuk mengerjakan lagi. Orang kapok juga berarti sudah tidak mau menemui lagi, tidak mau berjumpa lagi.
Pertanyaannya, mengapa kapok? Sangat boleh jadi karena ‘kapusan’, merasa hanya ditipu atau diperalat. Mungkin juga karena bosan.
Yang kedua, jinja itu berarti fobi, wis ora wani maneh. Fobi ini, kadarnya lebih tinggi dibanding dengan ‘kapok’, Fobi mengandung nuansa traumatik.
Pertanyaannya, mana mungkin fobi terhadap Pak Lurah yang dulunya begitu joz gandhos? Sangat mungkin orang itu berubah 180 derajat: dulu senang, kagum; namun sekarang prett!
Mengapa? Karena sekarang banyak ingkar janji. Ingkar janji bikin jinja.
Ending dari cerita Pak Lurah tadi begini:
“Siapa pun dan apa pun jabatanmu, jangan mudah ingkar janji, karena bikin jinja. Apalah artinya jabatan kalau banyak orang semakin jinja.
Jabatan habis/hilang dalam hitungan jari, tetapi jinja dibawa seumur hidup.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

